Harga Minyak Turun USD 2, Investor Ambil Untung di Tengah Sanksi Iran

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Maksim Safaniuk/Shutterstock

Harga minyak bumi turun lebih dari USD 2 per barel pada perdagangan Senin (24/8). Penurunan terjadi lantaran penanammodal memilih merealisasikan untung setelah nilai minyak mencatat kenaikan dalam beberapa perdagangan terakhir.

Dikutip dari Reuters, Selasa (25/8), perjanjian berjangka minyak mentah Brent ditutup melemah USD 2,22 alias 2,35 persen menjadi USD 92,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 2,05 alias 2,35 persen ke level USD 85,01 per barel.

Penurunan nilai terjadi meski Amerika Serikat (AS) memperluas hukuman terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin mengumumkan ekspansi hukuman sekunder nan dapat dikenakan kepada perusahaan dan negara nan tetap melakukan hubungan upaya dengan Iran.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari peningkatan tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran saat bentrok memasuki nyaris enam bulan. Pengumuman itu juga menyusul ancaman Presiden Donald Trump pada pekan lampau mengenai “perang ekonomi dan isolasi dalam skala nan belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran.

“Tidak banyak perihal baru nan disampaikan Bessent, selain apa nan sebelumnya sudah diperkirakan,” kata Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James.

Menurut dia, kenaikan nilai minyak nan cukup signifikan pada pekan lampau mendorong penanammodal melakukan tindakan ambil untung pada perdagangan Senin.

Brent dan WTI sebelumnya mencatat kenaikan mingguan selama dua pekan berturut-turut. Harga kedua perjanjian tersebut apalagi melonjak lebih dari 5 persen pada pekan lalu.

Ilusrasi Kilang Minyak Iran. Foto: Wirestock Creators/Shutterstock

“Apakah Gedung Putih dapat menghasilkan sesuatu nan belum pernah dicoba sebelumnya dan memberikan akibat nan jauh lebih besar terhadap perekonomian Iran? Kami bakal percaya setelah melihatnya,” kata Molchanov.

Sementara itu, analis Rystad Energy Jorge Leon menilai akibat hukuman baru AS bakal sangat berjuntai pada seberapa ketat Washington menerapkannya terhadap mitra jual beli Iran.

“Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah seberapa garang Washington bersedia menegakkan hukuman sekunder terhadap mitra jual beli Iran nan tetap tersisa,” kata Jorge Leon, kepala kajian geopolitik di Rystad Energy.

“Kecuali China secara signifikan mengurangi pembeliannya lebih jauh, akibat tambahan terhadap pendapatan minyak Iran kemungkinan bakal relatif terbatas,” tambahnya.

Iran mengecam rencana penerapan hukuman baru tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Pada hari nan sama, Kepala Angkatan Darat Pakistan mengunjungi Teheran untuk melakukan pembicaraan mediasi. Kunjungan itu dilakukan menjelang pengumuman hukuman baru oleh AS.

Di sisi lain, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap menghadapi gangguan. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz , seperti terlihat dari Musandam, Oman, 11 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Data pengiriman nan terlihat pada Senin menunjukkan kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Blokade nan melibatkan Iran dan AS membatasi lampau lintas kapal melalui jalur utama pengiriman daya tersebut.

Namun, CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan perusahaannya tetap dapat mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz secara menguntungkan. Kenaikan biaya transportasi dinilai tetap dapat tertutup oleh besarnya potongan nilai nan diberikan produsen minyak mentah.

SOMO milik Irak dan QatarEnergy juga menawarkan minyak mentah untuk dimuat di wilayah selat melalui sistem tender, menurut sejumlah pedagang.

“Harga Brent USD 93 per barel, bukan USD 120–150, menunjukkan kepada kita bahwa cukup banyak minyak tetap mengalir melalui Selat Hormuz dan secara umum dari area Teluk Persia,” kata analis SEB Bjarne Schieldrop kepada Reuters.

Menurut Schieldrop, situasi dapat berubah jika Iran betul-betul mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz dengan menggunakan roket dan drone.

Di tengah ketidakpastian tersebut, analis Morgan Stanley meningkatkan proyeksi nilai minyak Brent. Mereka memperkirakan nilai Brent berpotensi mencapai USD 100 per barel pada kuartal IV.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) belum membahas rencana pelepasan minyak tahap kedua dari persediaan strategis. Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Senin.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan