Ilustrasi.(Magnific)
HARGA minyak mentah bumi mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa (23/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk mencabut hukuman terhadap minyak Iran. Langkah ini, ditambah dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, memicu ekspektasi banjir pasokan di pasar global.
Berdasarkan info pasar terbaru, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk perjanjian Agustus turun 0,6% ke level US$73,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent merosot 0,7% menjadi US$77,33 per barel. Penurunan ini apalagi sempat menyentuh nomor lebih dalam pada sesi awal perdagangan, dengan Brent turun hingga 1,7% dan WTI merosot 1,6%.
Dampak Pencabutan Sanksi dan Diplomasi Nuklir
Keputusan Washington untuk memberikan pengecualian hukuman terhadap Teheran terjadi setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Iran setuju mengizinkan kembali pengawas nuklir masuk ke negara tersebut mulai pekan ini. Kemajuan diplomasi ini langsung direspons negatif oleh nilai minyak lantaran potensi kembalinya volume ekspor nan besar.
Analis dari Saxo Bank mencatat bahwa langkah ini dapat memfasilitasi ekspor sekitar 30 juta barel minyak nan diperkirakan meninggalkan pelabuhan Iran pekan lalu. "Data pengiriman menunjukkan jutaan barel minyak mentah dan produk bahan bakar telah transit melalui Selat Hormuz selama akhir pekan, memperkuat ekspektasi perbaikan aliran pasokan regional," tulis analis tersebut.
Fokus Pasar pada Keseimbangan Pasokan
Meskipun stok minyak dunia dilaporkan berada pada tingkat nan sangat rendah, pasar saat ini lebih konsentrasi pada pelonggaran keseimbangan minyak (oil balances) daripada penurunan stok. Ritterbusch & Associates dalam catatannya menyebut bahwa pelemahan nilai lebih lanjut tetap mungkin terjadi dalam beberapa minggu ke depan.
Analisis Teknis: Meski tren saat ini menurun, beberapa analis memandang ada potensi corrective rebound. Fawad Razaqzada dari FOREX.com mencatat bahwa parameter momentum menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold) dengan titik resistensi utama berada di kisaran US$76,10 per barel.
Proyeksi Masa Depan
Para mahir memprediksi bahwa begitu tren penurunan pasokan nan tajam mulai berbalik, proses pengisian kembali persediaan komersial maupun Cadangan Minyak Strategis (SPR) bakal menjadi sumber support nilai hingga akhir tahun ini dan memasuki tahun depan.
Namun, ketidakpastian tetap membayangi, terutama mengenai kebijakan asuransi wajib nan diberlakukan Iran untuk transit di Selat Hormuz. ANZ Research memperingatkan bahwa lonjakan pengiriman melalui jalur air utama bumi tersebut mungkin tidak memperkuat lama jika biaya tambahan mulai diterapkan di masa mendatang. (Wall Street Journal/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·