Harga minyak mentah dunia tetap memperkuat di level tinggi pada perdagangan Kamis (23/4). Kenaikan ini terjadi setelah bentrok geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Harga minyak mentah berjangka WTI tercatat memperkuat di atas USD 92 per barel usai menguat selama tiga sesi berturut-turut. Sementara itu, minyak mentah Brent juga memperkuat di atas USD 101 per barel dengan tren kenaikan serupa.
Mengutip Trading Economics, ketegangan dipicu oleh minimnya kemajuan dalam upaya diplomatik antara kedua negara. Kondisi ini diperparah dengan situasi di Selat Hormuz nan tetap tertutup secara efektif.
Teheran disebut terus menegaskan kendali atas jalur pelayaran tersebut dengan membatasi nyaris seluruh lampau lintas internasional. Bahkan, dilaporkan terjadi penembakan terhadap kapal-kapal komersial dalam sepekan terakhir.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap pemerintah Teheran. Kebijakan ini menuai kecaman lantaran dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata nan bertindak saat ini bakal tetap melangkah tanpa pemisah waktu. Washington, kata dia, tetap menunggu proposal perdamaian terbaru dari Iran.
Namun, Iran memberi sinyal belum bakal kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat. Hal ini membikin ketidakpastian pasar tetap tinggi dan menopang nilai minyak.
Dari sisi fundamental, info dari Energy Information Administration menunjukkan adanya penurunan persediaan daya di Amerika Serikat, terutama pada produk olahan utama. Penurunan ini mencerminkan kuatnya permintaan baik dari konsumsi domestik maupun pasar ekspor.
Kombinasi aspek geopolitik dan permintaan nan solid tersebut menjadi pendorong utama nilai minyak tetap tinggi dalam beberapa hari terakhir.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·