Harga minyak turun menjadi di bawah USD 100 per barel pada Rabu (8/4), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, nan berjuntai pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera dan aman.
Mengutip laporan Reuters, nilai minyak mentah Brent turun USD 14,51, alias 13,3 persen menjadi USD 94,76 per barel pada pukul 0330 GMT. Sementara WTI turun USD 17,16, alias 15,2 persen menjadi USD 95,79 per barel.
Perubahan sikap Trump terjadi sesaat sebelum tenggat waktu nan dia tetapkan bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, tempat 20 persen minyak bumi melintas.
"Ini bakal menjadi gencatan senjata dua sisi!" tulisnya di media sosial, setelah sebelumnya pada hari Selasa mengunggah bahwa "seluruh peradaban bakal meninggal malam ini" jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Iran mengatakan bakal menghentikan serangannya jika serangan terhadapnya berhenti. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi kemudian memastikan pelayaran melalui Selat Hormuz bakal dimungkinkan selama dua minggu dengan koordinasi berbareng angkatan bersenjata Iran.
Namun, sejumlah negara Teluk telah mengidentifikasi peluncuran rudal dan serangan pesawat tak berawak alias mengeluarkan peringatan kepada penduduk sipil untuk berlindung.
"Bahkan dengan kesepakatan damai, Iran mungkin bakal lebih berani menakut-nakuti Selat Hormuz lebih sering di masa mendatang, dan pasar bakal memperhitungkan peningkatan akibat terhadap Selat Hormuz ke depannya," kata analis MST Marquee, Saul Kavonic.
Perang AS-Israel dengan Iran menyebabkan kenaikan nilai minyak bulanan paling tajam dalam sejarah pada bulan Maret 2026, ialah lebih dari 50 persen.
"Masih ada ruang untuk penguatan premi geopolitik nan signifikan untuk masa mendatang berasas rincian perjanjian komprehensif tersebut," kata analis Commonwealth Bank, Vivek Dhar, dalam sebuah catatan.
Trump mengatakan AS telah menerima proposal 10 poin dari Iran nan disebut sebagai dasar nan layak untuk bermusyawarah dan mengatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kemajuan nan signifikan dalam mencapai kesepakatan definitif untuk perdamaian jangka panjang.
"Ini adalah awal nan baik dan dapat membuka jalan menuju pembukaan kembali nan lebih permanen - tetapi tetap banyak perihal nan perlu dipertimbangkan," kata analis IG, Tony Sycamore.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·