Harga Minyak Anjlok 5 Persen Usai AS dan Iran Sementara Hentikan Serangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: anatoliy_gleb/Shutterstock

Harga minyak ambruk sekitar 5 persen pada Senin (27/7) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan sementara serangan selama akhir pekan usai dua pekan saling menyerang. Langkah itu memunculkan angan bakal adanya solusi diplomatik nan dapat meredakan perang serta memungkinkan aktivitas pelayaran kembali normal di Selat Hormuz.

Dikutip dari Reuters, Senin (27/7), perjanjian berjangka minyak mentah Brent turun USD 4,89 alias 5,05 persen menjadi USD 91,89 per barel pada pukul 00.09 waktu setempat, setelah sempat menembus di bawah level support krusial USD90 per barel pada awal perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 4,67 alias 5,23 persen menjadi USD 84,64 per barel.

Kedua perjanjian tersebut diperdagangkan pada level terendah dalam nyaris sepekan setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.

Harga minyak Brent sempat menyentuh USD 100 per barel setelah bentrok nan mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meluas hingga ke Laut Merah. Kondisi tersebut menghalang ekspor minyak dari Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Asia.

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan kepada program Fox News Sunday dan sejumlah media AS lainnya bahwa Presiden Donald Trump memutuskan menghentikan sementara serangan militer AS untuk memberikan lebih banyak waktu bagi upaya diplomasi.

“Harapan meningkat bahwa jalur diplomatik nan nyata mulai terbuka,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan riset.

“Kembali pada nota kesepahaman 14 poin dengan kejelasan nan lebih baik mengenai pengendalian Selat Hormuz bakal menjadi titik awal nan baik,” tambah Sycamore.

Meski serangan dihentikan sementara, info pencarian kapal dari Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz setiap hari selama akhir pekan.

Selain itu, lampau lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb juga menurun pada Minggu (26/7) setelah golongan Houthi di Yaman menyerang akomodasi minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Meski demikian, sebuah kapal tanker raksasa ketiga asal China sukses keluar melalui Selat Bab el-Mandeb.

“Pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz kemungkinan bakal berjalan lambat dan hanya sebagian, lantaran banyak perusahaan pelayaran tetap berhati-hati dan mau memastikan kondisi betul-betul kondusif sebelum kembali mengirim lebih banyak kapal kosong ke selat tersebut,” tutur analis MST Marquee, Saul Kavonic.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan