Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan signifikan impor logam mulai alias emas dan perhiasan pada tiga bulan pertama pada 2026 dari Australia.
Kondisi ini terjadi saat nilai emas bumi tengah mengalami penurunan. Nilainya menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dari info Commodity Markets per April 2026 sebesar US$ 4.719,28 per troy ounce, terus merosot dari bulan-bulan sebelumnya, nan pada Februari 2026 tetap sebesar US$ 5.019,97 per troy ounce.
"Terkait dengan nilai emas di pasar internasional kembali mengalami penurunan dibanding bulan Maret nan lampau di tahun 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konvensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Komoditas emas dan perhiasan nan masuk ke Indonesia tercatat sebagai bagian dari impor golongan bahan baku alias penolong nan senilai US$ 43,17 miliar pada periode Januari-Maret 2026, naik 6,89% dari catatan periode nan sama tahun lampau US$ 40,38 miliar.
"Impor bahan baku penolong nan naik cukup besar ialah mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya, logam mulai dan perhiasan alias permata, serta beragam produk kimia," kata Ateng.
Pada periode Januari-Maret 2026, impor logam mulai dan perhiasan alias permata ini paling besar berasal dari Australia dengan nilai US$ 1,19 miliar dan kontribusinya 37,92%. Pertumbuhannya mencapai 469,05%.
Australia pun menempati posisi kedua terbesar negara asal impor non migas Indonesia pada periode Januari-Maret 2026 dengan porsi 5,94% dari total impor periode itu senilai US$ 61,30 miliar.
Selain logam mulia dan perhiasan alias permata, impor Indonesia dari Australia nan terbesar adalah Serealia US$ 394,55 juta, dengan pertumbuhan 38,30%, dan bahan bakar mineral US$ 301,22 juta nan terkontraksi 21,52% dibanding periode nan sama tahun lalu.
(arj/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·