Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan adanya potensi migrasi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari non subsidi ke BBM subsidi. Hal tersebut menyusul lonjakan nilai produk BBM non subsidi oleh PT Pertamina (Persero) nan sekarang menembus Rp23.900 per liter.
Ia menjelaskan, nilai Pertamax Turbo sekarang mencapai Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Sementara itu, nilai Pertalite tetap memperkuat di Rp10.000 per liter dan Solar subsidi Rp6.800 per liter.
Menurutnya, selisih nilai nan sangat tinggi khususnya di segmen diesel bakal langsung memengaruhi perilaku konsumen. Selisih antara Dexlite dan Solar subsidi apalagi telah melampaui Rp16.000 per liter, sehingga membikin BBM non subsidi semakin tidak ekonomis.
"Dengan gap sebesar itu, migrasi konsumsi nyaris pasti terjadi," ujar Yusuf kepada CNBC Indonesia, Senin (20/4/2026).
Yusuf memandang migrasi konsumsi nyaris tidak terhindarkan, terutama bagi pelaku upaya seperti sektor logistik, UMKM, dan armada kecil. Pasalnya, biaya bahan bakar dapat menyumbang sekitar 30-40 persen dari total biaya variabel.
"Dalam banyak kasus, bahan bakar bisa menyumbang 30 sampai 40 persen dari biaya variabel. Jadi begitu nilai naik tajam, switching itu bukan pilihan, tapi kebutuhan bertahan," ujarnya.
Sementara, nilai Pertamax di level Rp12.300 per liter berkedudukan sebagai bantalan, sehingga peralihan konsumsi tidak langsung menuju BBM subsidi, melainkan terjadi secara bertahap. Meski demikian, tekanan terhadap BBM subsidi tetap bakal meningkat.
Dari sisi kuota, dia menilai akibat terbesar berada pada Solar subsidi. Konsumsi nan sudah mendekati kuota, ditambah potensi peralihan dari Dexlite, dapat dengan sigap mendorong konsumsi melampaui batas. Sementara untuk Pertalite dinilai tetap aman.
"Tapi Solar subsidi jauh lebih rentan. Tahun lampau realisasinya sudah mendekati kuota, sementara konsumennya adalah sektor dengan volume besar seperti truk dan perangkat berat. Sedikit saja pergeseran dari Dexlite ke Solar, dampaknya langsung signifikan ke total konsumsi. Ini nan membikin Solar jauh lebih berisiko jebol dibanding Pertalite," kata dia.
Berikut nilai BBM Pertamina untuk wilayah DKI Jakarta per 20 April 2026:
Pertalite: Rp10.000 per liter
Solar Subsidi:6.800 per liter
Pertamax: Rp12.300 per liter liter
Pertamax Turbo:Rp19.400 per liter
Pertamax Green 95:Rp 12.900 per liter
Dexlite: Rp23.600 per liter
Pertamina Dex: Rp23.900 per liter
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·