Hanya Latihan Dua Menit, Robot Tangan Ini Sukses Tiru Melodi Piano Lewat Pendengaran

Sedang Trending 5 jam yang lalu
Hanya Latihan Dua Menit, Robot Tangan Ini Sukses Tiru Melodi Piano Lewat Pendengaran ‘Tangan Musisi’ menggunakan empat jari nan digerakkan tendon dan dikendalikan oleh motor listrik mini nan dirancang untuk meniru sistem tangan manusia. Jaringan saraf menganalisis bunyi melodi dan mengubahnya menjadi perintah motorik nan dibutuhkan(USC Viterbi School of Engineering.)

MENGAJARI robot untuk memainkan perangkat musik biasanya memerlukan pemrograman nan rumit. Setiap nada dan posisi jari kudu diatur sejak awal. Namun, sebuah terobosan baru sukses mendobrak batas tersebut setelah sebuah robot tangan bisa memainkan kembali melodi nan belum pernah didengarnya, hanya dalam sekali percobaan.

Robot nan diberi nama Musician Hand ini dikembangkan di laboratorium milik Hesam Azadjou, seorang kandidat ahli di Viterbi School of Engineering, University of Southern California (USC). Alih-alih diberi info instrumen nan besar, robot berkaki empat jari ini dibiarkan mengeksplorasi tuts piano secara random selama dua menit untuk merekam bunyi dan aktivitas jarinya sendiri, proses nan mirip dengan langkah bayi mempelajari kegunaan tubuh mereka.

Setelah proses random tersebut, robot ini bisa mendengar melodi baru sepanjang 30 nada dan langsung memainkannya kembali dengan tepat tanpa koreksi. Menggunakan motor listrik mini nan menggerakkan tali mirip tendon manusia, perangkat lunak di dalamnya sukses menerjemahkan bunyi menjadi aktivitas tekanan jari nan akurat.

Lolos Tes Buta Melawan Manusia

Untuk menguji kemampuannya, tim peneliti menggelar tes buta nan dinilai oleh dua master musik. Robot ini diuji berbareng empat pianis terlatih dan lima pemula untuk memainkan lagu berasas pendengaran (by ear). Hasilnya, performa Musician Hand setara dengan pemain terlatih dan jauh melampaui keahlian para pemula. Bahkan, juri kerap kali tidak bisa membedakan mana permainan robot dan mana nan dimainkan oleh manusia.

Francisco Valero-Cuevas, guru besar teknik biomedis di USC nan memimpin proyek ini, menjelaskan bahwa metode ini disebut perceptual robotics. Sistem ini menolak dugaan lama bahwa robot kudu mempunyai info sempurna sebelum bertindak.

"Tumit Achilles dari robotika tradisional adalah dugaan bahwa info nan sempurna diperlukan untuk bertindak dengan baik," ujar Valero-Cuevas.

Potensi Luar Biasa di Bidang Kesehatan

Keberhasilan proyek nan dipublikasikan dalam Journal of The Royal Society Interface ini membuka kesempatan pemanfaatan nan luas, khususnya di bagian terapi medis seperti pemulihan stroke alias penyakit Parkinson.

Valero-Cuevas menggambarkan masa depan di mana setelan robotik (exoskeleton) dapat mempelajari langkah melangkah alami pasien tak lama setelah didiagnosis. Seiring berkembangnya penyakit, setelan tersebut bakal beranjak menjadi mode pembantu untuk mengarahkan kembali tubuh ke aktivitas alami pasien tanpa perlu pemrograman ulang nan mahal.

Di sisi lain, Azadjou memandang teknologi ini bisa diterapkan dalam terapi bentuk di rumah. Robot dapat meniru teknik langsung dari terapis dan menyesuaikan latihan secara real-time berasas respons tubuh pasien.

"Dengan dua menit training dan sebuah laptop sederhana, sistem ini belajar melakukan sesuatu nan secara intrinsik adalah milik manusia: ekspresi artistik," pungkas Valero-Cuevas. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia