Hampir 1 Juta Remaja Usia 15-24 Tahun di RI Konsumsi Obat Penenang

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi anak remaja stres. Foto: sirikorn thamniyom/Shutterstock

Mendidik anak remaja mempunyai tantangan tersendiri. Sebagai orang tua, kita tentu selalu berupaya memberikan nan terbaik untuk anak. Kita mau mereka tumbuh sehat, bahagia, dan meraih cita-citanya. Namun, di tengah pesatnya perkembangan zaman, tantangan mendidik anak sekarang makin kompleks.

Salah satu realita pahit nan perlu kita cermati berbareng adalah persoalan kesehatan mental dan ancaman penyalahgunaan obat-obatan di kalangan remaja.

Berdasarkan info Survei BNN-BRIN-BPS (2023), terdapat sekitar 903.600 remaja usia 15–24 tahun nan tercatat sebagai pengguna narkoba, termasuk obat penenang. Angka ini menyumbang 28,2% dari total penyalahguna secara nasional.

Bahkan, prevalensi nasional terus meningkat hingga menyentuh nomor 2,11%, dengan 50% kasus tindak pidana narkotika di tahun 2024 melibatkan rentang usia muda (17–35 tahun).

Ini menjadi sirine bagi kita semua untuk lebih peka terhadap kondisi anak-anak di rumah, Moms.

Mengapa Anak-Anak Kita Menjangkau Obat Penenang?

Ilustrasi wanita depresi. Foto: DimaBerlin/Shutterstock

Sebagai sesama orang tua, kadang kita bertanya-tanya: kenapa ya anak-anak bisa terjerat narkoba dan obat terlarang? Menurut Kemendukbangga, berikut beberapa aspek pemicunya:

1. Pengaruh Teman Sebaya & Masa Transisi

Usia remaja adalah masa-masa pencarian jati diri nan penuh dinamika emosi. Keinginan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan sering kali membikin mereka susah menolak rayuan alias tawaran teman.

2. Kemudahan Akses dan Harga nan Terjangkau

Sayangnya, obat penenang sekarang marak diperjualbelikan secara terlarangan tanpa resep dokter, baik oleh oknum tertentu maupun lewat platform digital. Harganya nan terjangkau membuatnya kian mudah dijangkau oleh duit saku anak sekolah alias mahasiswa.

3. Anggapan Bahwa Obat Resep Lebih Aman'

Banyak remaja mengira bahwa obat nan biasa dijual di toko obat tidak seberbahaya jenis narkoba lainnya. Padahal jika dikonsumsi sembarangan tanpa petunjuk medis, pengaruh merusaknya sama besarnya.

Dampak nan Perlu Diwaspadai

Penggunaan obat penenang secara berlebihan tanpa pengawasan master menyimpan ancaman serius nan dapat mengintai masa depan anak:

Kesehatan Mental nan Memburuk

Bukannya menyelesaikan masalah, konsumsi tanpa dosis justru memicu alias memperburuk depresi, kecemasan, hingga akibat menyakiti diri sendiri.

Ketergantungan (Adiksi)

Tubuh bakal menuntut dosis nan semakin tinggi untuk mendapatkan pengaruh nan sama, membikin anak makin susah lepas tanpa support profesional.

Gangguan Fisik

Risiko bersambung pada gangguan organ tubuh, tremor, jantung berdebar, kandas napas, hingga ancaman overdosis dan koma.

Masa Depan Terganggu

Penurunan konsentrasi dan daya ingat berpotensi menurunkan prestasi belajar serta keahlian mereka dalam bersosialisasi secara sehat.

Langkah nan Bisa Orang Tua Lakukan di Rumah

Melihat tantangan ini, kita tidak perlu panik alias langsung bersikap berprasangka berlebihan. nan terpenting adalah mengambil langkah pencegahan dan pendampingan nan penuh kasih sayang:

Perkuat Komunikasi dan Jadilah 'Ruang Aman'

Mari ciptakan suasana rumah nan hangat, di mana anak merasa nyaman bercerita tentang masalah, kelelahan, alias kecemasannya tanpa takut dihakimi alias dimarahi.

Tingkatkan Literasi Kesehatan Keluarga

Edukasi anak secara perlahan mengenai ancaman penggunaan obat tanpa resep dokter. Pemahaman nan betul adalah tembok terbaik mereka saat berada di luar rumah.

Manfaatkan Layanan Kesehatan Jiwa Resmi

Jika memandang indikasi anak mengalami stres berat, perubahan perilaku nan drastis, alias ketergantungan, jangan ragu untuk berkonsultasi ke Puskesmas alias Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD).

Peduli pada Lingkungan Sekitar

Bila menemukan adanya indikasi peredaran alias penjualan obat resep secara terlarangan di lingkungan sekitar, kita bisa ikut menjaga anak-anak lain dengan melaporkannya ke pihak BPOM alias BNN terdekat.

Menjaga tumbuh kembang remaja di era sekarang memang memerlukan kesabaran dan kepekaan ekstra. Namun dengan keterbukaan, kasih sayang, dan pendampingan nan tepat di rumah, kita bisa membantu mereka melewati masa-masa sulitnya dengan kondusif dan optimal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan