Hadapi Kendala, Ambisi amp;039;Negara Listrikamp;039; China Jadi Sorotan di Global South

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Hadapi Kendala, Ambisi 'Negara Listrik' China Jadi Sorotan di Global South

Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

JAKARTA — Ekspor daya bersih China ke negara-negara berkembang di Selatan (Global South) sekarang menghadapi tinjauan kritis mengenai skala pengaruh dan efektivitas strategisnya. Di tengah penguatan posisi Beijing sebagai kekuatan daya listrik baru, sejumlah negara di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin mulai menyuarakan catatan mengenai kualitas, daya tahan, serta aspek politis nan menyertai mengambil teknologi tersebut. Dinamika ini dinilai berpotensi membentuk kembali lanskap geopolitik multipolar dengan langkah nan dapat membatasi pilihan bagi negara-negara nan tengah mencari solusi daya terjangkau.

Dilansir Nepal Aaja, Jumat, (24/4/2026), strategi China untuk menjadi pemimpin daya listrik bumi didukung oleh kebijakan industri dan jangkauan dunia nan sistematis. Rencana Lima Tahun 2026 menetapkan sasaran kapabilitas tenaga angin dan surya sebesar 3.600 GW pada tahun 2035, dengan pedoman produksi di Mongolia Dalam dan Gurun Gobi sebagai pusat ekspor utama. Proyek-proyek ini dirancang tidak hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga untuk menyuplai pasar internasional dengan panel surya, turbin angin, dan baterai kendaraan listrik. Melalui posisi sebagai pemasok teknologi esensial, Beijing berupaya memperkuat pengaruhnya di dalam orbit ekonomi negara-negara berkembang.

Namun, di kembali narasi aksesibilitas energi, muncul tantangan operasional nan signifikan. Sejumlah laporan dari Afrika dan Asia Tenggara menunjukkan hambatan teknis pada instalasi tenaga surya nan dinilai kurang adaptif terhadap kondisi suasana lokal. Integrasi ke jaringan listrik nasional juga kerap menghadapi inefisiensi, sehingga memicu biaya perbaikan dan penundaan proyek elektrifikasi. Di Amerika Latin, daya tahan turbin angin asal China menjadi bahan obrolan dibandingkan dengan pengganti teknologi lainnya. Fenomena ini dipandang sebagai refleksi dari upaya penyerapan kelebihan kapabilitas industri domestik China, nan menghasilkan teknologi dengan biaya awal rendah namun berisiko mempunyai beban pemeliharaan jangka panjang nan tinggi bagi negara penerima.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com