Liputan6.com, Jakarta - Digitalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi info dan komunikasi saat ini telah memicu kejadian “banjir informasi”. Menyikapi perihal tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan kritis dalam mencerna setiap info nan beredar di ruang siber.
Hal tersebut ditegaskan oleh Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Tulus Santoso, dalam obrolan panel interaktif mengenai literasi digital dan etika penyiaran nan diselenggarakan oleh BEM FISIP Universitas Pasundan, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Tulus, arus info saat ini lebih banyak beredar secara individual melalui gawai di ruang digital. Kondisi ini membikin upaya edukasi publik menjadi sangat mendesak, baik nan dilakukan secara berdikari di lingkungan family maupun melalui intervensi pemerintah.
Selain edukasi, Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI Pusat ini juga menggarisbawahi pentingnya merumuskan izin penyiaran dan digital nan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Yang paling krusial dalam menghadapi banjir informasi, buletin hoaks, dan konten nan meresahkan adalah literasi nan mumpuni dan izin nan relevan,” ujar Tulus di Bandung, Sabtu (23/5/2026).
Tulus menilai, sejauh ini tingkat kecakapan sebagian masyarakat dalam memilah dan menyaring info tetap rendah. Akibatnya, tidak sedikit penduduk nan terjebak dan secara tidak sadar turut menyebarkan buletin bohong alias hoaks ke jejaring nan lebih luas.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·