Personel Satbrimob Polda Kaltim padamkan kebakaran lahan gambut Kutai Timur(Dok. Humas Polda Kaltim)
KEBAKARAN rimba dan lahan (karhutla) nan berulang di Indonesia perlu diantisipasi melalui pengendalian sumber api, pengelolaan tata air gambut, dan perlindungan kediaman satwa liar. Penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah meluas.
Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ris Hadi Purwanto mengatakan, karhutla dipengaruhi tiga unsur utama, ialah sumber api, bahan bakar berupa vegetasi alias material organik, serta kondisi iklim.
"Fenomena El Nino dapat meningkatkan akibat kebakaran akibat kondisi nan lebih kering, tetapi sumber penyalaan api juga perlu menjadi perhatian," kata Ris dalam keterangan resmi, Kamis (15/10).
Menurut dia, kebakaran kerap dipicu kelalaian manusia maupun aktivitas pembukaan lahan nan tidak terkendali. Pembakaran lahan sering dipilih untuk menekan biaya pembukaan lahan, tetapi tanpa pengawasan memadai, api dapat merambat dan memicu kebakaran dalam skala luas.
Adapun, luas kumulatif karhutla pada periode 2015–2026 mencapai sekitar 8,35 juta hektare. Kebakaran terbesar terjadi pada 2015 dengan luas 2,61 juta hektare, disusul 2019 seluas 1,65 juta hektare dan 2023 seluas 1,16 juta hektare.
Ris menilai, kesiapsiagaan menghadapi karhutla perlu dibangun secara berkepanjangan dan tidak hanya ditingkatkan ketika kebakaran terjadi. Perencanaan penanganan kudu mempertimbangkan perubahan kondisi suasana serta potensi kebakaran di beragam wilayah.
“Jangan sampai, misalnya, mendirikan badan alias balai untuk menangani karhutla itu reaktif. Misalnya, jika ada kebakaran baru dibuat, jika tidak, tidak usah,” ujarnya.
Gambut
Guru Besar Bidang Ilmu Kimia dan Pengolahan Tanah Fakultas Pertanian UGM Benito Heru Purwanto menambahkan, pengelolaan tata air menjadi aspek krusial dalam mencegah kebakaran di lahan gambut. Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun sehingga rentan mengalami kerusakan ketika kondisi hidrologinya terganggu.
Menurut Benito, pembangunan kanal alias pengelolaan lahan nan menurunkan muka air tanah dapat mengeringkan gambut dan meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran. Api apalagi dapat merambat ke lapisan organik di bawah permukaan tanah sehingga lebih susah dipadamkan.
“Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemadaman melalui penjatuhan air dari udara alias water bombing tidak selalu efektif andaikan sumber api berada di bawah permukaan tanah. Karena itu, pembasahan kembali atau rewetting diperlukan untuk memulihkan kelembapan gambut.
Antisipasi juga perlu dilakukan sebelum musim tandus melalui pengelolaan tata air dan pemeliharaan kelembapan gambut sejak musim hujan.
Kebakaran tidak hanya menghilangkan vegetasi, tetapi juga mempercepat hilangnya material organik dan menyebabkan penurunan permukaan tanah. Sementara itu, pembentukan gambut memerlukan waktu sangat lama sehingga kerusakannya tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat.
Kerusakan Habitat Satwa
Dampak karhutla terhadap ekosistem turut disoroti Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM sekaligus pemerhati satwa liar Raden Wisnu Nurcahyo. Ia mengatakan, kebakaran menyebabkan satwa kehilangan habitat, sumber pakan, dan tempat berlindung.
“Masalah nan utama itu kehilangan sumber pakan lantaran kebakaran hutan,” ungkap Wisnu.
Selain kehilangan pakan, satwa liar berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat asap dan luka akibat permukaan tanah nan tetap menyimpan bara.
Kerusakan kediaman juga dapat mendorong satwa beranjak ke area permukiman alias lahan pertanian untuk mencari makanan, sehingga meningkatkan potensi bentrok dengan manusia.
Wisnu mengingatkan, pemulihan vegetasi tidak serta-merta mengembalikan kediaman seperti semula. Tumbuhan nan tumbuh kembali belum tentu menyediakan jenis pakan nan sesuai dengan kebutuhan satwa tertentu. Oleh lantaran itu, restorasi perlu mempertimbangkan karakter ekosistem dan kebutuhan ekologis satwa. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·