Setiap harinya, lebih dari 7.300 ton sampah dari Jakarta bertumpuk di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Di kembali gunungan sampah itu, ancaman besar mengintai nan jarang diketahui publik.
Berdasarkan laporan terbaru berjudul "Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills" nan dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026, Bantargebang dinobatkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia.
Hanya kalah dari TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina. Fakta ini perlu kita ketahui berbareng lantaran dampaknya langsung menyentuh lingkungan dan kesehatan.
Emisi 6,3 Ton Tiap Jam, Terburuk Se-Asia
Berdasarkan laporan UCLA nan menggunakan info satelit Carbon Mapper dari instrumen Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT milik NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), TPST Bantargebang menghasilkan 6,3 ton gas metana per jam.
Tingkat persistensinya mencapai 100 persen. Artinya, emisi selalu terdeteksi setiap kali satelit melintas. Bahkan pada pertengahan 2025, lonjakan emisi sempat menembus lebih dari 12 ton per jam. Posisi ini menjadikan Bantargebang sebagai letak terburuk di Asia, mengalahkan Malaysia, India, hingga Tailan.
Dampak setiap jam pada gas metana sebanyak itu, hingga terlepas begitu saja ke udara. Ini seperti peledak waktu ekologis nan terus berdebar tanpa disadari. Ironisnya, Bantargebang justru menjadi "penyumbang" nomor dua bumi di sektor nan semestinya bisa dikelola lebih baik.
28 Kali Lebih Berbahaya dari CO₂, Mempercepat Pemanasan Global
Dikutip dari laporan Fairatmos nan mengutip IPCC, metana (CH₄) mempunyai potensi pemanasan dunia (GWP) 27 hingga 29,8 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida.
Artinya, dalam jangka waktu 100 tahun, metana bisa menjebak panas 28 kali lebih banyak daripada CO₂. Dikutip dari laporan UCLA bahwa emisi 5 ton metana per jam setara dengan emisi dari satu juta mobil SUV alias pembangkit listrik batu bara 500 megawatt. Kontribusi metana terhadap pemanasan dunia mencapai sekitar 28%, menjadikannya sasaran prioritas dalam upaya pengurangan emisi cepat.
Polusi metana ini seumpama "pemanas ruangan raksasa" nan perlahan memanggang bumi. Kalau CO₂ itu keran nan menetes pelan, metana itu mobil melaju kencang dengan pengaruh nan jauh lebih luar biasa dalam waktu singkat.
Tak Hanya Panas Bumi, Gas Metana Juga Picu Kebakaran dan Krisis Kesehatan
Gas metana memang tidak beracun, tetapi sangat mudah meledak. Dikutip dari laman CNN Indonesia, jika mengalami tekanan dengan konsentrasi tinggi, metana dapat menimbulkan ledakan besar.
Kebakaran di TPA sering kali dipicu oleh akumulasi gas ini. Sementara itu, dikutip dari laporan IQAir, gas rumah kaca seperti metana mendorong perubahan suasana nan memperparah cuaca ekstrem, gelombang panas, dan menurunkan kualitas udara nan berakibat langsung pada penyakit pernapasan.
Dampak rawan untuk penduduk di sekitar Bantargebang hidup dengan akibat dobel kudu menghirup gas rawan menakut-nakuti setiap saat, sementara polusi udara perlahan merusak paru-paru. Ini bukan sekadar angka, melainkan juga nyawa manusia nan dipertaruhkan.
Beban 7.300 Ton Sampah Per Hari, Mengancam Longsor Setiap Saat
Merujuk info Sustain Life Today, Bantargebang menerima rata-rata lebih dari 7.300 ton sampah per hari, apalagi sempat melampaui 7.700 ton. Kapasitasnya diperkirakan bakal segera mencapai pemisah akhir.
Bencana longsor sampah selalu mengintai, apalagi dengan sistem open dumping nan tetap diterapkan. Pemerintah pusat pun telah memberikan ultimatum kepada Gubernur DKI Jakarta untuk mempercepat proyek Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), dengan ancaman pengambilalihan jika dalam 7 minggu tidak ada kemajuan.
Ini adalah sirine paling nyata. Gunungan sampah setinggi puluhan meter itu bukan hanya pemandangan memilukan, melainkan juga ancaman bentuk nan suatu saat bisa roboh dan menelan pemukiman warga. Daripada terus menimbun, bukankah lebih bijak jika sampah dilihat sebagai sumber energi?
Bisa Jadi Sumber Energi, bukannya Bencana
Gas metana dari TPA sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya listrik, seperti nan telah dilakukan di Palu dengan potensi hingga 2 megawatt. Dikutip dari RRI, TPA Muara Fajar Pekanbaru sudah mengubah gas metana menjadi listrik nan mengurangi emisi sekaligus menghasilkan energi. Inilah solusi nan idealnya diterapkan di Bantargebang.
Di sisi lain, mengutip dari laporan SUCOFINDO, teknologi geomembran untuk menutup timbunan sampah dapat menekan pelepasan metana, mengurangi pencemaran air lindi, dan mencegah akibat kebakaran.
Tanpa pengelolaan serius, bukan hanya emisi nan membahayakan, melainkan juga seluruh ekosistem di sekitar Bantargebang bakal terus terancam.
Bantargebang bukan sekadar tempat sampah, melainkan juga cermin nyata dari krisis tata kelola lingkungan kita.
Persoalan metana ini adalah masalah bersama, baik dari kebijakan pemerintah maupun kebiasaan kita menghasilkan sampah setiap hari.
Jika tidak diatasi dengan langkah konkret dari sekarang, korban berikutnya bukan hanya lingkungan, melainkan juga kesehatan dan masa depan generasi mendatang. Saatnya bertindak, sebelum terlambat.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·