Ilustrasi: : Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (11/3/2025).(ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
GUNUNG Semeru nan terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tercatat mengalami 21 kali gempa letusan alias erupsi dalam kurun waktu enam jam terakhir pada Jumat (28/8/2026) mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, menyampaikan bahwa aktivitas kegempaan nan terekam mempunyai amplitudo 10–22 mm dengan lama gempa berjalan antara 67 hingga 120 detik.
"Secara visual gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah tenggara dan selatan," kata Yadi Yuliandi dalam laporan tertulis nan diterima di Lumajang, Jumat (28/8/2026).
Selain gempa letusan, Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat serangkaian aktivitas kegempaan lainnya sepanjang periode pengamatan tersebut:
- Gempa Guguran: Terjadi 2 kali dengan amplitudo 2–12 mm dan lama 56–88 detik.
- Gempa Hembusan: Terjadi 2 kali dengan amplitudo 6–8 mm dan lama 52–77 detik.
- Gempa Tektonik Jauh: Terjadi 2 kali dengan amplitudo 5–17 mm, S-P 21–46 detik, serta lama 68–113 detik.
Saat ini, status aktivitas vulkanik gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut tetap memperkuat pada Level III (Siaga).
Pihak otoritas mengimbau masyarakat untuk mematuhi sejumlah pemisah kondusif penambangan dan aktivitas penduduk guna mengantisipasi ancaman bahaya letusan maupun lahar:
- Sektor Tenggara (Besuk Kobokan): Dilarang melakukan aktivitas apa pun di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
- Sempadan Sungai: Di luar jarak 13 km, masyarakat dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan lantaran berpotensi terlanda ekspansi awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km.
- Radius Puncak: Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru lantaran rawan lontaran batu pijar.
- Potensi Lahar: Masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah nan berhulu di puncak, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak sungai mini sekitarnya.
Jalur Pendakian Ditutup
Sementara itu, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah memberlakukan penutupan total seluruh jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026.
Penutupan ini dipicu oleh kebakaran rimba nan melanda area Blok Ranu Kembang. Pihak BB TNBTS memastikan seluruh pendaki nan berada di area pendakian telah sukses dievakuasi turun dengan selamat pada Kamis (27/8/2026). (Ant/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·