Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tetap berakibat terhadap ruang udara pada Senin (7/9). AirNav Indonesia mencatat sebaran abu vulkanik mencapai ketinggian hingga 50 ribu kaki.
Informasi tersebut tercantum dalam ASHTAM VAWR3760 nan diterbitkan AirNav Indonesia melalui International NOTAM Office pada Senin (7/9) pukul 09.10 WIB.
Dalam ASHTAM tersebut, Gunung Anak Krakatau ditetapkan dalam status peringatan merah alias Colour Code Red Alert.
Sebaran abu vulkanik teridentifikasi hingga Flight Level 500 (FL500) alias sekitar 50 ribu kaki dan bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 15 knot alias sekitar 28 kilometer per jam.
Sementara itu, sebaran abu vulkanik hingga FL150 alias sekitar 15 ribu kaki bergerak ke arah barat dengan kecepatan nan sama.
AirNav juga mencatat adanya abu vulkanik pada ketinggian tinggi nan telah terpisah dari sumber gunung dan bergerak ke arah barat daya. Abu tersebut diperkirakan bakal menipis alias menghilang dalam waktu 12 hingga 18 jam.
Namun, emisi abu vulkanik hingga ketinggian FL150 tetap berjalan dan bergerak ke arah barat. Sebaran abu ini berada di wilayah Flight Information Region (FIR) Jakarta. AirNav Indonesia pun memberi perhatian terhadap airport dan rute penerbangan nan terdampak dalam pengelolaan ruang udara.
Informasi mengenai kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam ASHTAM VAWR3760 bertindak mulai Senin (7/9) pukul 09.10 WIB hingga Selasa (8/9) pukul 09.10 WIB.
Di sisi lain, operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tetap ditutup sementara hingga pukul 18.00 WIB, Senin (7/9), berasas NOTAM A3373/26. Penutupan ini berangkaian dengan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap operasional penerbangan.
28 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·