Gubernur BI: Nilai Tukar Negara Lain juga Melemah

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Seorang petugas menghitung pecahan Dolar AS dan Rupiah di area Kwitang, Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya berada dalam kondisi undervalued alias lebih rendah dari nilai esensial ekonominya.

Menurut Perry, pelemahan rupiah bukan disebabkan kondisi ekonomi domestik nan rapuh, melainkan lebih banyak dipicu tekanan dunia dan tingginya permintaan dolar AS di pasar.

“Sepakat semua ini secara esensial Rupiah itu kan undervalued. Ukuran esensial rupiah itu apa sih? Pertumbuhan ekonomi 5,61 (kuartal I 2026) ya salah satu nan tertinggi di G20. Inflasinya rendah 2,42 persen, persediaan devisa juga kita tinggi, angsuran juga tumbuh tinggi,” ujar Perry Warjiyo, saat konvensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung BI, Jakarta, Kamis (7/5).

Berdasarkan info Bloomberg pada Selasa (5/5), rupiah sempat melemah sepanjang sejarah hingga Rp 17.412 per dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memberikan kata sambutan dalam peresmian soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (23/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Hampir Seluruh Mata Uang Dunia Melemah

Menurut Perry, tekanan dunia membikin nyaris seluruh mata duit bumi mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Faktor utama berasal dari kenaikan nilai minyak dunia, memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, hingga tingginya suku kembang AS nan sekarang berada di level 4,41 persen.

Kondisi itu membikin dolar AS semakin kuat dan mendorong penanammodal asing menarik biaya dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Nah pertanyaannya loh kok ada pelemahan Rupiah? Seluruh mata duit bumi itu melemah. Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out,” katanya.

Selain aspek global, Perry menjelaskan ada aspek musiman nan ikut menekan rupiah pada April hingga Mei 2026. Pada periode tersebut, permintaan kurs asing meningkat lantaran banyak korporasi melakukan repatriasi dividen serta pembayaran utang luar negeri, baik kembang maupun pokok pinjaman.

“Juga bulan April-Mei itu memang korporasi banyak nan repatriasi dividen, bayar utang luar negeri baik kembang dan pokok, memang kondisinya begitu,” ujarnya.

instagram embed

Untuk menjaga stabilitas rupiah, sebelumnya BI telah mengeluarkan tujuh langkah kebijakan. Salah satunya melakukan intervensi besar-besaran di pasar kurs asing menggunakan persediaan devisa.

Perry menyebut intervensi dilakukan tak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar luar negeri melalui instrumen offshore non-deliverable forward (NDF) di pusat-pusat finansial global.

“Tapi around the world, around the clock, kami itu intervensi di pasar luar negeri, offshore NDF di mana? Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu namanya bukan upaya as usual, itu all out ya,” ucap Perry.

BI juga memperkuat aliran modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, menjaga likuiditas perbankan tetap longgar, hingga memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying.

Selain itu, BI mendorong penggunaan mata duit lokal dalam transaksi internasional, termasuk pengembangan pasar yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

BI juga menggandeng perbankan domestik untuk ikut memperkuat pasokan valas di pasar luar negeri dan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar AS oleh korporasi maupun perbankan berbareng Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan