Golkar Nilai Gestur AHY Siap Maju Pilpres, Gerindra: Pemilu Masih Lama

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Jakarta -

Juru Bicara (Jubir) Gerindra, Sugiat Santoso, merespons pernyataan Waketum Golkar Ahmad Doli Kurnia nan menilai gestur Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) seperti memberi sinyal siap maju kontestasi pilpres. Sugiat menyebut pembahasan pemilu tetap lama.

"Ya, nan dibutuhkan oleh bangsa saat ini adalah kesolidan seluruh komponen bangsa. Baik nan berada di pemerintahan maupun nan di luar pemerintahan untuk bersama-sama bekerja mencari solusi terhadap semua persoalan-persoalan rakyat. Nah, apalagi kan Demokrat, Mas AHY adalah bagian dari pemerintahan," kata Sugiat kepada wartawan, Senin (7/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sugiat berambisi semua pihak konsentrasi menuntaskan kerja-kerja nan telah diamanatkan oleh rakyat. Ia menyebut banyak persoalan rakyat nan mesti dituntaskan.

"Ya saya berambisi setiap kita konsentrasi saja menuntaskan kerja-kerja kita nan diamanahkan kepada kita, baik di legislatif maupun di eksekutif. Kalau mengenai dengan pemilu kan tetap lama kan. Sementara banyak persoalan kerakyatan nan memerlukan solusi dari kita bersama, kan gitu," ungkapnya.

Ia mengatakan nan terpenting saat ini adalah konsentrasi berbareng pemerintah untuk meneruskan persoalan kerakyatan. Wakil Ketua Komisi XIII DPR ini mengatakan di internal Gerindra belum ada pembahasan soal Pemilu nan bakal datang.

"Fokus berbareng pemerintahan Pak Prabowo untuk menuntaskan persoalan-persoalan kerakyatan. Kalau memang ada temuan info fakta-fakta di lapangan mengenai dengan kondisi rakyat, mari kita sama-sama mencari solusinya agar itu bisa tuntas, kan begitu," ujar Sugiat.

"Kalau pemilu kan tetap lama, Pak Prabowo sendiri kan di internal Gerindra tidak pernah membahas apa pun mengenai dengan pemilu. Kami tetap konsentrasi mengawal program-program strategis Pak Prabowo agar bisa tereksekusi dan berfaedah bagi kesejahteraan rakyat," tambahnya.

Pernyataan Doli

Waketum Golkar Ahmad Doli Kurnia sebelumnya menanggapi pernyataan AHY mengenai kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Doli sempat menyoroti gestur AHY dalam pidato politiknya saat aktivitas HUT Demokrat tersebut.

"Secara substansi, apa nan disampaikan oleh AHY, saya setuju sepenuhnya. Tentang pertumbuhan kerakyatan nan kudu terus dijaga, tanggung jawab seluruh lembaga negara, tugas utama pemerintah dan kewenangan serta tanggungjawab penduduk negara," kata Doli kepada wartawan.

Kendati demikian, Doli menyoroti posisi AHY nan berada di koalisi pemerintah. Ia memandang AHY seolah memberi sinyal kuat menjadi pesaing di pilpres mendatang.

"Namun, dilihat dari cari penyampaian, gestur dan standing position-nya, AHY seperti memberi sinyal kuat bahwa beliau siap menjadi salah seorang contender dalam pilpres mendatang," ujar Doli.

"Padahal, kita semua saat ini, sebagai sebuah bangsa, sedang menghadapi tantangan nan luar biasa. Situasi nan dihadapi masyarakat juga tidak mudah. Dan AHY posisinya saat ini adalah bagian dari pemerintah nan semestinya ikut bertanggung jawab atas situasi apa pun nan dihadapi," tambahnya.

Ia menekankan kesulitan nan dihadapi masyarakat saat ini merupakan tanggung jawab semua pihak. Doli menyinggung beberapa pihak nan sudah menyiapkan kuda-kuda untuk perhelatan Pilpres 2029.

"Kesulitan nan dihadapi rakyat adalah tanggung jawab kita semua. Pemerintah, DPR, dan juga partai politik adalah satu kesatuan nan tidak bisa dipisahkan. Fenomena seperti itu semakin menguatkan bahwa rupanya 'magnet' Pilpres 2029 tak bisa terhindarkan lagi dan semakin terbuka. Sepertinya beberapa kekuatan sudah mulai pasang kuda-kuda," ungkap dia.

Ia menyinggung soal pihak nan menunjukkan poros politik menjelang Pemilu 2029, seperti Ketum Projo Budi Arie. Doli lantas berbincang mengenai poros 'Cikeas' nan mulai dibangun saat ini.

"Bila beberapa waktu lalu, Budi Arie, nan mewakili satu 'poros politik' (Solo), sudah terang benderang menyatakan kesiapannya, sekarang kita menyaksikan satu lagi 'poros politik' (Cikeas) ikut memberikan sinyal nan kuat. Padahal kedua poros ini sedang bersama-sama berada 'satu kapal' di dalam pemerintahan," kata dia.

Wakil Ketua Baleg DPR RI ini mengatakan Golkar menghormati langkah politik nan diambil partai lain. Menurutnya, itu adalah kewenangan otoritas masing-masing partai.

"Memang menjadi agak unik, jika dalam waktu dekat, salah satu 'poros politik' krusial lain (Teuku Umar), tidak kunjung menyatakan siap berkompetisi pada Pilpres 2029. Buat kami, Partai Golkar, tentu kami menghormati apa nan menjadi agenda, sikap, keputusan, dan langkah setiap partai politik," kata dia.

"Itu adalah kedaulatan dan otoritas masing-masing partai politik. Kami saat ini, hingga 2029, tetap konsentrasi untuk membantu mensukseskan seluruh program pemerintahan Prabowo-Gibran, membantu sekuat tenaga agar rakyat bisa segera keluar dari masalah nan dihadapi," imbuhnya.

(dwr/fca)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News