Gerombolan Tikus Diadili, Didampingi Pengacara Saat Sidang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Jakarta -

Proses norma peradilan biasanya hanya diterapkan untuk manusia. Namun, siapa sangka, pada abad keenam belas gerombolan tikus pernah menjalani sidang norma lantaran mencuri.

Dikutip dari kitab The Criminal Prosecution and Capital Punishment of Animals (1906) karya Edward Payson Evans, sekitar tahun 1508 ada kejadian di kota Autun, Prancis. Ada kasus jelai alias biji-bijian sereal nan baru saja dipanen petani hancur.

Gerombolan tikus menjadi tertuduh dalam kasus ini. Para tikus pun diadili di pengadilan gerejawi Autun atas tuduhan serius. Gerombolan tikus dijerat dengan tuduhan melakukan tindakan melawan norma lantaran menyantap dan menghancurkan jelai di provinsi tersebut.

Pengaduan resmi diajukan oleh kehakiman, pejabat alias wakil uskup, nan menjalankan yurisdiksi dalam kasus-kasus seperti itu.

Mereka juga memanggil 'para pelaku; untuk datang pada hari sidang. Dalam perkara ini, seorang pengacara berjulukan Bartholomew Chassenée ditunjuk sebagai pengacara gerombolan tikus tersebut.

Bartholomew Chassenée secara serius menjalankan tugasnya sebagai pengacara. Dia tahu, kliennya, gerombolan tikus ini dikenal kerap menghancurkan jelai. Oleh lantaran itu, Chassenée terpaksa menggunakan beragam macam manuver hukum. Dia melakukan pembelaan berkepanjangan hingga mengusulkan keberatan teknis.

Dia berambisi para tikus nan duduk sebagai terdakwa itu lolos dari jeratan hukum. Paling tidak, balasan pengadil untuk mereka diringankan.

Taktik Agar Tikus Tak Dihadirkan Saat Sidang

Taktik awal dilakukan oleh Chassenée ialah dengan meyakinkan pengadil bahwa para terdakwa tersebar di banyak wilayah. Mereka semua susah untuk dipanggil. Bahkan satu alias dua panggilan saja tidak cukup.

Intinya, Chassenée meneruskan beragam strategi agar para tikus ini tak dipanggil dan menjalani persidangan.

Chassenée menyampaikan argumennya kepada pengadilan secara panjang lebar, untuk menunjukkan bahwa jika seseorang dipanggil untuk datang di suatu tempat nan tidak dapat dia datangi dengan aman, dia dapat menggunakan kewenangan banding dan menolak untuk mematuhi surat panggilan tersebut.

Para tikus ini pun lolos dari hukum. Namun, berkah kasus ini, reputasi Chassenée menjadi naik. Kasus ini begitu terkenal di kalangan para mahir hukum. Bahkan, movie ini turut menginspirasi movie The Hour of the Pig (1993). Film ini bercerita tentang pengacara nan memihak seekor babi dalam kasus tuduhan pembunuhan seorang anak laki-laki.

(rdp/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News