Generasi Tanpa Teladan Publik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi anak muda nan senang lantaran bisa wujudkan mimpinya. Foto: Shutterstock

Ada nan terasa mengkhawatirkan ketika membuka kolom komentar di media sosial hari ini. Komentar nan seringkali tanpa etika dan empati dilontarkan tanpa risih di kolom umum. Kata-kata kasar menjadi perihal biasa, seolah tidak ada pemisah antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Padahal, ruang digital ini juga dikonsumsi oleh generasi muda ialah mereka nan sedang belajar memahami langkah berkomunikasi dan bersikap di ruang publik.

Guru, orang tua alias orang dewasa nan bertanggung jawab pasti memberi pelajaran nan baik pada generasi muda. Namun, generasi muda tidak hanya dibentuk oleh apa nan diajarkan, tetapi juga oleh apa nan mereka saksikan. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap orang lain nan dulunya sakral, saat ini melebur dengan beragam macam sajian dari beragam media nan tidak selalu positif. Di sinilah pentingnya kehadiran teladan dalam kehidupan sehari-hari untuk melengkapi nilai-nilai nan mereka dapatkan dari forum-forum kebaikan.

Namun, belakangan ini, ruang publik justru semakin miskin figur teladan. Banyak orang tua merasa kecewa atas keadaan hari ini. Nilai-nilai kebaikan nan mereka tanamkan sejak awal seolah tiada berbekas. Seiring bertambahnya usia dan waktu kebersamaan dengan family berkurang, generasi muda lebih banyak mendapat teladan dari luar lingkup kehidupannya. Bila tidak bisa memilih dan memilah, bisa jadi teladan jelek lebih dominan mempengaruhi perilaku mereka.

Dunia nan dihadapi remaja hari ini jauh melampaui pemisah rumah dan sekolah. Internet menghadirkan beragam contoh perilaku dalam satu genggaman. Sayangnya, tidak semua nan tampil di sana mencerminkan nilai nan patut ditiru. Di ruang digital, perhatian sering kali justru diberikan kepada hal-hal nan sensasional, kontroversi, ujaran keras, hingga perilaku nan melanggar norma. Ternyata, ketenaran tidak selalu melangkah beriringan dengan integritas.

Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika figur publik nan semestinya menjadi rujukan justru menunjukkan perihal sebaliknya. Sebagai contoh, tidak sedikit tokoh nan terlibat dalam perdebatan di beragam ruang publik menyajikan serangan personal, kata-kata nan tidak pantas, alias sikap nan lebih mengedepankan pencitraan daripada keteladanan. Ruang publik pun berubah menjadi arena adu ego, bukan ruang pembelajaran nan sehat.

Yang sering terlupakan, semua itu tidak hanya disaksikan oleh orang dewasa. Anak-anak dan remaja juga melihat, menyerap, dan menafsirkan apa nan terjadi. Tanpa disadari, ruang publik telah menjadi ‘kelas liar’ bagi generasi muda. Dari sana, mereka belajar tentang gimana berbicara, gimana bersikap, dan gimana memandang orang lain.

Ketika generasi ini memandang bahwa ketenaran bisa diraih dengan cara-cara nan kasar alias manipulatif, maka nilai nan mereka tangkap bisa menjadi bias. Apa nan diajarkan di rumah dan sekolah berpotensi berbenturan dengan realitas nan mereka lihat setiap hari. Dalam kondisi seperti ini, kebingungan nilai menjadi sesuatu nan susah dihindari.

Karena itu, tidak setara jika pembentukan karakter generasi muda sepenuhnya dibebankan kepada family dan sekolah. Pendidikan nilai adalah tanggung jawab bersama. Keluarga dan sekolah memang fondasi utama, tetapi masyarakat, terutama para figur publik, mempunyai peran besar dalam memperkuat alias justru merusak fondasi tersebut.

Setiap perilaku di ruang publik, sekecil apa pun, mempunyai akibat nan lebih luas dari nan terlihat. Para pemimpin, tokoh masyarakat, dan figur publik perlu menyadari bahwa mereka tidak hanya berbincang kepada sesama orang dewasa, tetapi juga kepada generasi nan sedang belajar memahami dunia.

Di sisi lain, generasi muda juga perlu dibekali keahlian untuk memilih, memilah dan menilai. Literasi digital dan literasi moral menjadi krusial agar mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi bisa berpikir kritis terhadap apa nan mereka konsumsi setiap hari.

Membangun generasi beradab tidak cukup dengan nasihat. Kita perlu memastikan bahwa bumi nan mereka hadapi juga menghadirkan contoh teladan publik nan layak ditiru. Sebab masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh apa nan diajarkan, tetapi juga sikap orang-orang nan mereka saksikan setiap hari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan