Serangan Israel ke Libanon(AFP)
ISRAEL melanjutkan serangan militernya di wilayah Libanon Selatan, Selasa (2/6). Meski demikian, militer Israel menahan diri untuk tidak menggempur ibu kota Beirut setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata parsial dengan golongan bersenjata Hizbullah nan didukung Iran.
Berdasarkan kesepakatan nan diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pihak Libanon menyatakan pasukan Israel tidak bakal membom Beirut dengan hadiah Hizbullah tidak menyerang wilayah Israel. Trump juga menegaskan kesepakatan ini melalui media sosialnya.
"Mereka setuju untuk berakhir menembak ke arah Israel, dan tentaranya. Demikian pula, Israel setuju untuk berakhir menembak ke arah mereka," tulis Trump.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan catatan tegas mengenai persetujuan tersebut.
"Jika Hizbullah tidak berakhir menembak ke arah kota-kota dan penduduk negara kami, Israel bakal menyerang sasaran teroris di Beirut," kata Netanyahu. Ia juga menambahkan bahwa militer Israel bakal "terus beraksi sesuai rencana di Libanon Selatan."
Rumah Sakit di Tyre Hancur Berantakan
Sebelum kesepakatan tersebut diumumkan, eskalasi mematikan sempat terjadi. Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan empat orang tewas dan 127 lainnya terluka akibat serangan udara Israel nan menghantam gedung di dekat Rumah Sakit Jabal Amel di kota Tyre. Sebanyak 39 staf medis termasuk di antara korban luka, dengan empat di antaranya dalam kondisi kritis.
Direktur Rumah Sakit, Dr. Wael Mroueh, menyatakan serangan terjadi tiba-tiba saat para staf sedang merawat pasien dan pengungsi. Ia juga membantah adanya sasaran militer di sekitar area rumah sakit.
"Musuh Israel menargetkan jurnalis, petugas ambulans, staf medis. Tidak ada bedanya, dan nan mereka inginkan hanyalah mengusir kami dari negara kami," ujar Mroueh.
Di dalam rumah sakit, lorong-lorong dipenuhi pecahan kaca, panel langit-langit runtuh, dan deretan inkubator bayi tampak retak akibat kekuatan ledakan. Di tengah kehancuran itu, seorang bayi berjulukan Fares nan baru lahir empat jam sebelum ledakan selamat di pelukan neneknya, Amal.
"Memang betul hidup ini sangat sulit, tetapi kita kudu menanggungnya," kata Amal sembari menatap cucunya. "Ini adalah negara dan tanah airnya, dan dia [Fares] kudu mempertahankannya. Ini adalah sebuah tanggung jawab."
Pihak militer Israel berkilah mereka membidik "infrastruktur teroris Hizbullah" di area tersebut. Israel mengakui adanya kerusakan pada rumah sakit namun menekankan akomodasi medis tersebut "bukan merupakan target".
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Saling Serang
Situasi di lapangan tetap tegang setelah pengumuman tersebut. Militer Israel melaporkan telah mencegat dua proyektil nan ditembakkan ke Israel utara dan menuduh Hizbullah melanggar kesepakatan dengan meluncurkan serangan rudal serta drone. Akibatnya, perintah pemindahan baru dikeluarkan untuk kota Nabatieh.
Di sisi lain, sayap militer Hizbullah menyatakan pasukannya menyerang tank dan tentara Israel di kota-kota Libanon Selatan seperti Haddatha, Bayada, dan Zawtar al-Sharqiya menggunakan drone dan rudal, tetapi tidak menyebut adanya serangan lintas batas.
Hingga saat ini, perundingan lanjutan antara diplomat Israel dan Libanon dijadwalkan tetap terus berjalan di Washington untuk memperluas kerangka gencatan senjata ini ke seluruh wilayah Libanon. (BBC/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·