Gen Z Satukan Kekuatan Mengguncang Negara, Pemerintah Waswas

Sedang Trending 13 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang demonstrasi nan dipimpin Generasi Z mulai mengguncang pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi. Kemarahan anak muda dipicu persoalan pengangguran, dugaan kecurangan pemilu, hingga kekecewaan terhadap janji politik nan dinilai belum terpenuhi.

"Bangsa ini tiba-tiba menemukan suaranya," ujar Yogendra Yadav, aktivis oposisi nan berkedudukan dalam demonstrasi tersebut, seperti dikutip Reuters, Jumat (16/10/2026). Ia menilai gelombang protes ini belum tentu menjadi awal berakhirnya pemerintahan Modi, tetapi merupakan tanda kemunduran politiknya.

Lembaga pemantau bentrok independen Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) memperkirakan tindakan demonstrasi di India tahun ini berpotensi menjadi nan terbanyak dalam satu dasawarsa terakhir.

Sejumlah analis menyebut mobilisasi anak muda, ditambah menguatnya oposisi, sebagai tantangan serius bagi Modi nan berkuasa sejak 2014. Meski begitu, pemerintahan Modi tetap relatif stabil dan pemilu nasional berikutnya baru dijadwalkan pada 2029.

Salah satu pemicu demonstrasi adalah tuntutan agar Ketua Komisi Pemilihan Umum India, Gyanesh Kumar, mengundurkan diri. Aktivis dan partai oposisi menuding revisi daftar pemilih menguntungkan Partai Bharatiya Janata (BJP) ketua Modi.

Pemerintah, BJP, dan Komisi Pemilihan Umum membantah tuduhan tersebut, dengan BJP menyatakan kemenangan mereka didorong ketenaran Modi dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, keresahan anak muda melampaui persoalan pemilu. Tingginya pengangguran, kebocoran soal ujian penting, kekerasan terhadap perempuan, serta dugaan kedekatan pengusaha miliarder dengan penguasa turut memicu kemarahan.

"Rasa takut dalam diri kami sudah hilang," ujar Ananya Raturi, mahasiswa Universitas Delhi berumur 21 tahun nan mengikuti demonstrasi di ibu kota.

Gelombang protes juga memperoleh momentum dari Cockroach Janta Party (CJP), aktivitas satir nan berkembang menjadi kampanye nasional. Gerakan tersebut bermulai setelah Ketua Mahkamah Agung India menyamakan pengangguran dengan "kecoa".

Penyebaran video melalui media sosial dan kanal buletin independen di YouTube ikut memperluas jangkauan aksi, sementara tokoh oposisi Rahul Gandhi turut turun ke jalan berbareng para pendukungnya.

Persoalan lapangan kerja menjadi salah satu sumber kekecewaan terbesar. Data pemerintah nan dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan tingkat pengangguran India sedikit di atas 5%, tetapi pengangguran di kalangan anak muda lebih tinggi.

Survei Reuters pada 2025 mencatat tingkat pengangguran sebesar 9,9% di antara masyarakat berumur 15-29 tahun, sedangkan penelitian Azim Premji University menemukan nomor nyaris 40% di kalangan lulusan berumur 15-25 tahun.

Meski protes memunculkan komparasi dengan aktivitas anak muda nan menggulingkan pemerintahan di Bangladesh dan Nepal, analis mengingatkan bahwa kondisi politik India berbeda dan Modi tetap mempunyai pedoman dukungan.

Pemilihan umum di Uttar Pradesh, negara bagian dengan jumlah masyarakat terbesar di India, pada awal 2027 berpotensi menjadi ujian politik penting.

"Apakah perihal ini bakal berakibat pada hasil pemilihan, tetap terlalu awal untuk mengatakannya," kata Rahul Verma, peneliti Centre for Policy Research di New Delhi.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑