Gempa M 7,7 NTT: Potret Kerentanan Perempuan dalam Kondisi Bencana

Sedang Trending 13 menit yang lalu
Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERS

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 nan mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) tetap menyisakan duka mendalam. Dampaknya pun tetap terasa hingga saat ini. Sepekan usai gempa pertama, BMKG mencatat sudah ada lebih dari 5 ribu gempa susulan.

Menurut info Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat (21/8), sebanyak 83 orang meninggal dan 986 luka-luka. Lalu, menurut info per Sabtu (22/8), jumlah penduduk nan mengungsi mencapai 150.576 jiwa. Sebanyak tujuh kabupaten di Pulau Flores, ialah Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, Ende, dan Nagekeo terdampak.

Dilansir kumparanNEWS, tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak adalah Kabupaten Manggarai sebanyak 41.427 orang, Nagekeo 34.256 orang, dan Manggarai Timur 31.372 orang.

Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERS

Dalam wawancara berbareng kumparanWOMAN, Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti menjelaskan kondisi para korban, termasuk para wanita dan anak-anak, di lokasi.

Dia mengatakan, gempa-gempa susulan menyebabkan rumah nan tadinya tetap retak-retak menjadi hancur. Lalu, kondisi cuaca nan dingin di beragam daerah, termasuk Ruteng, Manggarai, membikin banyak wanita dan anak-anak kedinginan.

“Di Ruteng ini, kan, wilayah dingin. Jadi, memang di sini kekurangan tempat mengungsi nan layak. Anak-anak dan perempuan, ya, kedinginan. Mereka memerlukan banyak bantuan. Air bersih di beberapa tempat juga tetap terbatas tentunya,” jelas Dini pada Jumat (22/8) malam.

Saat ini, para korban tetap mengungsi di tenda-tenda terpisah, bukan di satu kamp pengungsian nan terpusat. Pengungsian juga overcrowded alias terlalu penuh, menyebabkan kurangnya ruang kondusif dan privasi. Selain itu, tetap banyak wilayah nan terputus aksesnya dan terisolir, sehingga support belum bisa disalurkan secara optimal.

Kondisi Kerentanan Perempuan di Tengah Bencana

Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERS

Dini mengatakan, wanita dan anak-anak menjadi golongan rentan dengan hambatan nan unik. Perempuan dengan kegunaan biologisnya setiap bulan, ialah menstruasi, mengalami kesulitan dalam mengelolanya. Akses air bersih nan terbatas menyulitkan mereka untuk mengganti pembalut dan membersihkan area organ reproduksi.

Tak hanya itu, pengungsian nan terlalu penuh menyebabkan wanita kehilangan ruang aman.

“Dalam perspektif perempuan, musibah menyebabkan persoalan besar terutama untuk nan sedang menstruasi. Secara kebersihan dan sanitasinya terbatas sekali dalam kondisi bencana,” jelas Dini.

“Selain itu, lantaran kondisi nan mungkin overcrowded, anak perempuan—terutama anak-anak perempuan nan remaja—ini tidak ada privasi juga, semuanya campur. Ini menambah kerentanan,” imbuhnya.

Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERS

Ruang kondusif nan terbatas, ditambah minimnya penerangan di malam hari, juga meningkatkan potensi akibat pelecehan terhadap perempuan. Lalu, terbatasnya area privat menjadi tantangan sendiri bagi ibu-ibu menyusui.

Lalu, akibat gempa bumi juga tidak selalu terlihat mata. Dini menjelaskan, banyak korban nan perekonomiannya terganggu lantaran tidak bisa bekerja. Terlebih, banyak masyarakat nan bekerja di sektor informal dengan pendapatan harian.

“Bencana berikutnya adalah lantaran rumah-rumah mereka hancur, mereka juga tidak bisa bekerja lantaran tetap cemas meninggalkan keluarga. Secara ekonomi sangat terdampak, terutama masyarakat-masyarakat nan bekerja di sektor informal nan pendapatannya harian,” jelas Dini.

Bantuan nan Disalurkan

Kondisi korban mengungsi gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT. Foto: REUTERS

Dini mengatakan, saat ini yayasan Plan Indonesia sudah menyalurkan beragam bantuan. Sejauh ini, mereka juga sudah menyalurkan dua ribu paket sanitasi dan kebersihan untuk perempuan, termasuk di dalamnya pembalut.

“Jadi nan sudah dibagikan itu ada paket kebersihan menstruasi, terpal untuk kediaman sementara, tikar untuk dasar tidur, selimut, dan shelter,” papar Dini.

Plan Indonesia juga mendistribusikan air bersih ke daerah-daerah nan sejak lama kesulitan akses air bersih, terlebih di Nagekeo dan Manggarai, juga mengupayakan pengadaan tenda kondusif untuk para wanita dan anak-anak.

“Anak-anak wanita dan wanita itu rentan terhadap pelecehan. Itulah kenapa perlu penerangan. Kami juga upayakan ruang aman, ialah tenda besar untuk wanita dan anak, lantaran mungkin ada ibu nan mau menyusui, perlu privasi, alias mereka mau tukar baju, jadi itu ada tenda tertutup. Ini tetap diupayakan untuk bisa sampai ke wilayah-wilayah nan memang membutuhkan,” tutup Dini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan