Gempa M 4,8 Guncang Sigi Sulteng akibat Aktivitas Sesar Palukoro

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Gempa M 4,8 Guncang Sigi Sulteng akibat Aktivitas Sesar Palukoro Gempa bumi dangkal magnitudo 4,8 mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (16/5).(Dok. BPBD)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kejadian gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,8 nan mengguncang wilayah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (16/5) pukul 16.34 WITA.

Gempa bumi dangkal dengan kedalaman 10 kilometer ini berpusat di darat pada jarak 21 km arah Utara Sigi. Berdasarkan kajian BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, menjelaskan bahwa ditinjau dari letak episenter dan kedalaman hiposenternya, guncangan ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut.

"Jadi dengan memperhatikan letak episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi nan terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Palukoro," kata Cipto dilansir dari Antara, Sabtu (16/5).

Secara geografis, episenter gempa terletak pada koordinat 1,20 Lintang Utara (LU) dan 119,89 Bujur Timur (BT). Dampak guncangan dilaporkan terasa cukup kuat di beberapa wilayah dengan skala intensitas nan bervariasi.

"Berdasarkan perkiraan peta guncangan dan laporan masyarakat, gempa bumi ini menimbulkan guncangan di Kabupaten Sigi dengan skala intensitas IV MMI dan Kota Palu dengan skala intensitas III MMI," tambah Cipto.

Hingga buletin ini diturunkan, BMKG belum menerima laporan mengenai kerusakan gedung maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Namun, aktivitas seismik tetap terpantau bersambung di sekitar lokasi.

"Hingga pukul 17.00 WITA hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 1 kejadian gempa bumi susulan ialah magnitudo 1,7 dengan kedalaman 5 kilometer," ungkapnya.

Pihak BMKG mengimbau masyarakat di Sulawesi Tengah, khususnya di Kabupaten Sigi dan sekitarnya, agar tetap tenang dan waspada. Warga diminta untuk tidak mempercayai info alias rumor nan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta selalu memantau kanal resmi BMKG. (Ant/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑