Ilustrasi(Dok Kemenkes)
Masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap indikasi gangguan pencernaan nan menyerupai wasir alias ambeien. Pasalnya, indikasi kanker usus besar (kanker kolorektal) sering kali mempunyai kemiripan dengan ambeien, sehingga banyak pasien nan terlambat mendapatkan penanganan medis nan tepat.
Kanker usus besar merupakan salah satu jenis kanker dengan prevalensi tinggi. Namun, lantaran gejalanya nan sering dianggap sepele, banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut. Dokter ahli mengingatkan bahwa membedakan antara ambeien dan kanker usus besar sangat krusial untuk keberlangsungan hidup pasien.
Kemiripan Gejala nan Menipu
Salah satu indikasi utama nan sering membikin pasien terkecoh adalah adanya darah pada feses. Pada ambeien, pendarahan biasanya terjadi lantaran pecahnya pembuluh darah di area anus. Namun, pada kanker usus besar, pendarahan terjadi akibat adanya tumor di dalam saluran cerna.
Selain pendarahan, beberapa gejala kanker usus besar nan sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa meliputi:
- Perubahan pola buang air besar (diare alias sembelit nan berjalan lama).
- Perasaan tidak tuntas setelah buang air besar.
- Nyeri perut alias kram nan terus-menerus.
- Penurunan berat badan tanpa karena nan jelas.
- Tubuh terasa mudah capek akibat anemia (kekurangan darah).
Peringatan Dokter: "Jangan melakukan pemeriksaan mandiri. Jika terjadi perubahan pola BAB lebih dari dua minggu alias terdapat darah, segera lakukan pemeriksaan kolonoskopi untuk memastikan apakah itu ambeien alias keganasan (kanker)."
Bahaya Keterlambatan Diagnosis
Kanker usus besar nan ditemukan pada stadium awal mempunyai kesempatan kesembuhan nan jauh lebih tinggi dibandingkan jika sudah menyebar ke organ lain. Jika pasien terus mengobati dirinya sendiri dengan obat ambeien tanpa pemeriksaan medis, sel kanker mempunyai waktu untuk tumbuh dan menyebar (metastasis).
Faktor akibat seperti pola makan rendah serat, tinggi lemak, konsumsi daging merah berlebih, obesitas, serta aspek keturunan menjadi pemicu utama. Dokter menyarankan agar perseorangan nan berumur di atas 45 tahun alias mempunyai riwayat family dengan kanker kolorektal untuk melakukan skrining secara rutin.
Langkah Pencegahan
Untuk menekan risiko, masyarakat diimbau untuk menerapkan style hidup sehat dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dari sayur dan buah-buahan, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan alkohol. Deteksi awal tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman kanker usus besar.
Hingga saat ini, info medis menunjukkan bahwa pemeriksaan kolonoskopi tetap menjadi standar emas (gold standard) untuk mendeteksi adanya polip alias massa tumor di dalam usus besar sebelum berkembang menjadi kanker nan mematikan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·