Gedung Putih Minta Dana USD 87,6 Miliar untuk Biayai Perang AS-Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Para pemukim Israel berdiri di samping bagian rudal nan mencuat dari tanah, setelah serangan dari Iran, di Tepi Barat bagian tengah nan diduduki Israel, Senin (8/6/2026). Foto: Naama Stern/REUTERS

Gedung Putih meminta personil parlemen menyetujui anggaran sebesar USD 87,6 miliar, nan sebagian besar ditujukan untuk “kebutuhan mendesak” mengenai perang Amerika Serikat melawan Iran. Permintaan ini diajukan sehari setelah Kongres meloloskan resolusi nan mengecam tindakan militer tersebut.

Mengutip BBC, sebagian besar dana, ialah USD 67 miliar, bakal dialokasikan untuk Departemen Pertahanan. Rinciannya mencakup USD 21 miliar untuk amunisi, USD 17,3 miliar untuk biaya operasional, dan USD 12,1 miliar untuk program-program rahasia, menurut Gedung Putih.

Sisa biaya bakal digunakan untuk program nan tidak mengenai langsung dengan perang, termasuk USD 11 miliar untuk petani AS dan USD 1,4 miliar untuk penanganan pandemi Ebola di Afrika Tengah.

Namun, proposal tersebut menghadapi tantangan berat di Kongres lantaran bentrok dengan Iran tidak terkenal di kalangan pemilih, sementara pemilu sela (midterm election) bakal digelar pada November mendatang.

Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih (Office of Management and Budget/OMB) mengirimkan permintaan resmi pendanaan itu pada Rabu dalam surat kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) Mike Johnson.

“Sebagian besar permintaan ini bakal digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak mengenai Operation Epic Fury (OEF),” tulis surat tersebut, merujuk pada perang dengan Iran.

Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan dari personil pers di atas Air Force One dalam perjalanan kembali ke Gedung Putih pada 11 Januari 2026 di Palm Beach, Florida. Foto: Samuel Corum/Getty Images via AFP

Permintaan itu, juga mencakup sekitar USD 300 juta untuk memperkuat keamanan kedutaan besar AS dan pos-pos diplomatik di Timur Tengah, serta Asia Selatan setelah beberapa di antaranya menjadi sasaran serangan pada awal konflik.

Saat ini, Washington dan Teheran tengah menjalankan gencatan senjata. Namun, surat dari instansi anggaran Gedung Putih mencatat bahwa Pentagon perlu “mengisi kembali persediaan” setelah serangan militernya.

Permintaan anggaran tersebut muncul ketika sejumlah personil Partai Republik di Kongres menyatakan keraguan terhadap rencana perdamaian nan disepakati Presiden Donald Trump dengan Iran pekan lalu.

Sebelumnya pada Rabu, Trump menggelar pertemuan nan berjalan tegang dengan senator-senator Partai Republik, setelah secara mendadak membatalkan aktivitas penandatanganan undang-undang perumahan bipartisan.

Dalam jamuan makan siang di Capitol Hill, Trump mengeluhkan pemungutan bunyi pada Selasa mengenai pembatasan kewenangan perang presiden nan disetujui Senat nan dikuasai Partai Republik.

Resolusi tersebut merupakan nan pertama dalam jenisnya nan sukses lolos Kongres dan memerintahkan seorang presiden untuk mengakhiri suatu tindakan militer.

Sebelum pertemuan di Capitol Hill, Trump menyebut pemungutan bunyi mengenai kewenangan perang itu sebagai langkah nan “tidak tepat waktu dan tidak berarti”.

Melalui media sosial, dia juga menyebut empat senator Partai Republik nan berasosiasi dengan Demokrat dalam pemungutan bunyi tersebut sebagai “pecundang”.

Salah satu senator Republik nan dimaksud, Bill Cassidy dari Louisiana, mengatakan dirinya sempat terlibat adu argumen dengan Trump dalam pertemuan tertutup pada Rabu.

instagram embed

“Saya berdiri dan berkata, ‘Anda belum memberi tahu rakyat Amerika apa nan sebenarnya terjadi’,” ujarnya kepada wartawan.

“Ini semestinya berjalan empat minggu, tetapi sudah melangkah empat bulan. Tujuan awal kami belum tercapai.”

Dalam pertemuan sebelumnya dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, Trump kembali meluapkan kekesalannya mengenai pemungutan bunyi tersebut.

“Kami mempunyai empat senator Republik dan semua Demokrat, mereka mau kalah dalam perang lantaran mereka bodoh,” kata Trump.

Bulan lalu, Kepala Keuangan Pentagon Jules Hurst mengatakan kepada panel Kongres bahwa perang tersebut telah menghabiskan biaya sekitar USD 29 miliar hingga saat ini.

Namun, para analis pertahanan dan personil parlemen menilai perkiraan tersebut belum mencerminkan sepenuhnya besarnya kerugian finansial akibat bentrok tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan