Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Afrika Selatan (Afsel) Cyril Ramaphosa selama ini memosisikan dirinya sebagai sosok bersih nan dibutuhkan negeri itu. Ia merupakan seorang mantan aktivis serikat pekerja nan beranjak menjadi pengusaha lampau miliarder dan sekarang berkeinginan memulihkan kredibilitas partainya African National Congress (ANC) etelah sejumlah skandal.
Namun awal September ini, usahanya itu menghadapi ujian berat. Bahkan bisa menggoyang dirinya dari bangku presiden.
Apa nan Terjadi?
Ya, selama bertahun-tahun, Ramaphosa terus dibayangi oleh skandal Phala Phala. Ini merujuk ke nama nan diambil dari letak penginapan satwa liar milik sang presiden.
Tempat itu menjadi viral kala pencuri membawa kabur duit tunai senilai US$580.000 (sekitar Rp10,18 miliar). Uang itu sendiri disembunyikan di dalam sofa milik Ramaphosa tahun 2020.
Kasus tersebut mencuat ke publik pada Juni 2022, setelah mantan kepala badan intelijen Afsel, Arthur Fraser, melaporkan kasus itu ke polisi dan menuduh Ramaphosa melakukan sejumlah pelanggaran. Dikatakan bahwa ada "operasi rahasia di luar catatan resmi pemerintah" untuk mendapatkan kembali duit itu.
Hal ini akhirnya memberikan "senjata ampuh" bagi oposisinya untuk menggugat janji Ramaphosa mengenai pemerintahan nan bersih. Parlemen pun mengusulkan upaya penyelidikan, meski tim kuasa norma Ramaphosa berupaya agar penyelidikan dinyatakan tidak sah dan dibatalkan.
Memangnya Kenapa dengan Uang di Sofa Itu?
Ramaphosa mengatakan duit tersebut berasal dari dari penjualan kerbau kepada seorang pengusaha asal Sudan. Namun tak semua orang percaya, apalagi penjelasannya memicu gelak tawa sekaligus skeptisme.
Intinya ada tiga persoalan dibalik duit tersebut nan membikin kedudukan presiden nan menjabat di 2018 tersebut "sulit". Dari mana asal usul duit itu sebenarnya, gimana langkah pencuri itu ditangani dan benarkah ada operasi rahasi, serta apakah Ramaphosa melanggar tanggungjawab konstitusional sebagai presiden (prima facie evidence).
Kenapa saat Ini Diungkit Kembali?
Sebenarnya di 2022 temuan penyelidik parlemen mengatakan terdapat cukup bukti untuk meminta pertanggungjawabannya. Namun, Majelis Nasional-yang saat itu dikuasai oleh ANC-pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses penyelidikan pemakzulan secara penuh.
Partai-partai oposisi menggugat keputusan tersebut ke pengadilan. Pada Mei 2026 ini, Mahkamah Konstitusi memerintahkan parlemen untuk menghidupkan kembali proses pemakzulan.
Hingga hari ini, sebenarnya kasus tetap bergulir. Kasus itu bakal menentukan nasib Ramphosa dan potensi dia tergeser dari bangku kepresidennya.
Perlu diketahui, skandal Phala Phala juga menjadi sorotan politik hanya beberapa bulan menjelang pemilihan wilayah bulan November, setidaknya bagi ANC. Jika oposisi memenangkan pemilu wilayah ini, Ramaphosa bakal makin mendapat tekanan.
"Partai-partai oposisi telah mencicipi kemenangan awal," ujar seorang petugas pembelaan di Judges Matter, lembaga pemantau norma di Universitas Cape Town, Mbekezeli Benjamin, dimuat Financial Times dikutip Kamis (10/9/2026).
"Hal ini bakal melemahkannya secara signifikan, serta turut melemahkan faksi pendukungnya maupun calon penerusnya kelak," tambah Benjamin.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·