Gara-gara Kabel Tembaga Dicuri, Kecelakaan Kereta ini Tewaskan 22 Orang

Sedang Trending 4 minggu yang lalu
Jakarta -

Kecelakaan kereta api tragis pernah terjadi di bagian timur Afrika Selatan. Ironisnya, kecelakaan ini terjadi lantaran kabel tembaga persinyalan dicuri.

Dilansir BBC, kecelakaan terjadi pada Selasa, 5 Februari 2002. Lokasinya di Stasiun Charlotte Dale, sekitar 60 km di sebelah utara Durban, provinsi KwaZulu Natal, Afrika Selatan.

Sebuah kereta peralatan milik Spoornet nan sedang mengangkut muatan kertas berakhir (stationary) di stasiun tersebut. Di jalur dan arah nan sama (menuju Durban), melaju sebuah kereta penumpang komuter Metrorail nan sangat padat. Mayoritas penumpangnya anak-anak nan baru pulang sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak ada peringatan alias tanda ancaman sama sekali sebelum tabrakan keras terjadi. Kereta penumpang tersebut langsung menghantam bagian belakang kereta peralatan nan sedang berakhir dengan kecepatan penuh.

Tabrakan dahsyat tersebut mengakibatkan enam gerbong kereta penumpang keluar dari rel (anjlok). Gerbong-gerbong kereta langsung ringsek parah, saling bertabrakan, dan beberapa di antaranya apalagi terlipat hingga menumpuk di atas gerbong lainnya.

Kecelakaan ini menyantap banyak korban jiwa. Sebanyak 22 orang meninggal dunia, nan mana 16 di antaranya adalah anak sekolah.

Sementara itu, puluhan orang mengalami luka-luka. Bahkan 10 korban di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Akibat Kabel Persinyalan Dicuri

Petugas pun melakukan penyelidikan. Beberapa saat sebelum kecelakaan, kabel-kabel sistem persinyalan kereta dilaporkan telah dicuri dan dirusak sekitar satu jam sebelum kejadian.

Hal ini diduga kuat mengacaukan sistem navigasi jalur sehingga kereta penumpang masuk ke jalur nan sama dengan kereta peralatan nan sedang berhenti

Menurut laporan News24 pada 14 Februari 2002, pencuri mengambil sekitar 2 meter kabel sinyal. Nilai tembaganya jika dijual ke pengepul peralatan jejak diperkirakan hanya sekitar R26 (26 rand), dengan nilai sekitar R9-R13 per kilogram pada saat itu. Jika mengikuti kurs rupiah, maka harganya sekitar Rp 30 ribu pada tahun tersebut. Hal ini terasa begitu ironis lantaran pencurian peralatan nan tak begitu mahal itu kudu merenggut nyawa banyak orang.

(rdp/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑