Gara-gara Aksi Jual Saham Teknologi, Elon Musk Kehilangan Status Triliuner Dunia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pemilik xAI sekaligus CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk menghadiri Forum Investasi AS-Arab Saudi di John F. Kennedy Center for the Performing Arts, Washington, DC, pada 19 November 2025. Foto: Brendan Smialowski / AFP

Elon Musk kehilangan statusnya sebagai triliuner bumi kurang dari dua minggu setelah IPO SpaceX nan bersejarah. Dikutip dari BBC, Kamis (25/6), Bloomberg Billionaires Index menilai kekayaan Elon sebesar USD 957 miliar pada Selasa (23/6) alias turun dari nilai USD 1,11 triliun dalam kurun waktu kurang dari 14 hari.

Perubahan ini terjadi setelah penurunan tajam saham SpaceX dan Tesla lantaran anjloknya saham teknologi, dipicu oleh meningkatnya keraguan tentang profitabilitas jangka panjang AI.

Meski demikian, Elon tetap menjadi orang terkaya di bumi dan kekayaannya tetap jauh lebih besar dibandingkan rival terdekatnya.

Elon mencetak sejarah pada 12 Juni lampau dengan SpaceX nan debut di pasar publik di bursa Nasdaq. Penawaran umum saham perdana (IPO) nan sensasional ini dihargai USD 135 per saham dan dibuka pada USD 150 saat perdagangan dimulai.

Debut SpaceX di bursa memberi nilai lebih dari USD 1,77 triliun. Karena Elon mempunyai sekitar 42 persen saham SpaceX, pencatatan saham langsung melambungkan kekayaan bersihnya melewati nomor USD 1 triliun.

Per 16 Juni, antusiasme penanammodal mendorong saham SpaceX ke puncak USD 225,64, mendorong total kekayaan bersih Elon mencapai USD 1,32 triliun. Namun, reli pasar tidak berjalan lama.

Roket terbaru SpaceX, Starship V3, terlihat bersandar di akomodasi Starbase saat menjalani uji terbang ke-12 nan dipantau dari South Padre Island, Texas, Kamis (21/5/2026). Foto: Ronaldo Schemidt/AFP

Kekhawatiran atas pengeluaran modal, biaya prasarana AI, dan suku kembang nan tetap tinggi memicu tindakan jual saham teknologi secara luas dan sangat memukul raksasa teknologi seperti Nvidia, Intel, dan AMD.

Namun, saham SpaceX menanggung akibat terberat dari koreksi tersebut, ambruk lebih dari 30 persen dari puncaknya pada pertengahan Juni hingga diperdagangkan sekitar USD 156.

Pada Senin (22/6) nan penuh gejolak, penurunan 16 persen dalam satu hari menghapus sekitar USD 240 miliar dari neraca pribadi Elon.

Bersamaan dengan itu, saham Tesla nan merosot nyaris 6 persen hanya sehari kemudian memperparah kerugian finansial. Elon mempunyai sekitar 12 persen dari saham Tesla.

Status triliuner Elon sangat rentan lantaran konsentrasi kekayaannya nan ekstrem. Tidak seperti miliarder tradisional dengan portofolio nan terdiversifikasi, kekayaan Elon nyaris seluruhnya terikat hanya pada dua perusahaan: SpaceX nan mewakili nyaris 80 persen dari total kekayaannya, dan Tesla.

CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, memberi isyarat ketika dia berbincang dalam parade perdana di dalam Capitol One Arena, di Washington, DC, Senin (20/1/2025) waktu setempat. Foto: Angela Weiss/AFP

Analis pasar mencatat bahwa volatilitas pasca IPO adalah perihal nan sepenuhnya standar untuk perusahaan pertumbuhan nan berbobot tinggi, meski skala pergerakan mencerminkan tarik menarik nan lebih dalam antara gembar gembor dan realitas.

"Untuk saham seperti SpaceX, banyak pengambilan keputusan mungkin berkarakter emosional dan didasarkan pada antisipasi lompatan besar dalam eksplorasi dan pemanfaatan luar angkasa. Tapi investasi kudu dilakukan dengan pandangan nan bening dan kesabaran, apalagi ketika angka-angka nan sangat besar terlibat," kata kepala kajian finansial di AJ Bell, Danni Hewson.

Dengan dicabutnya pembatasan pada akhir Juli nan memungkinkan orang dalam perusahaan dapat menjual saham mereka secara bertahap, tekanan pasar mungkin bakal berlanjut.

Meski demikian, lantaran pemulihan moderat sebesar 6 persen pada saham SpaceX bakal mengembalikan statusnya sebagai miliarder dengan kekayaan 13 digit, Elon mungkin bakal menjadi miliarder pertama di bumi nan kekayaannya terus meningkat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan