Foto: Warga Indramayu Ikuti Mandi 'Grujug' di Malam Maulid Nabi

Sedang Trending 46 menit yang lalu
gallery figure

Sejumlah penduduk mengikuti Tradisi Mandi Grujug di kompleks Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu, Indramayu, Selasa (25/8) awal hari.

Mulai dari balita nan digendong ibunya hingga lansia, berkumpul untuk mengikuti tradisi Mandi Grujug dengan menggunakan air dari Sumur Penganten.

Warga datang sembari membawa gayung, ember, hingga jeriken untuk mengambil air sumur. Sebagian penduduk memilih mandi langsung di lokasi, sementara lainnya membawa air untuk diberikan kepada family di rumah.

Sumur Penganten diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1470-an, sebelum Masjid Dermayu nan dibangun sekitar 1527 Masehi. Sumur tersebut juga dikenal penduduk lantaran airnya tetap bening dan tidak surut meski musim kemarau.

Tradisi Mandi Grujug biasanya dilakukan pada malam Maulid Nabi, 1 Suro, 10 Muharram, hingga Jumat Kliwon. Warga mengikuti tradisi ini dengan beragam harapan, mulai dari kesehatan, kebahagiaan, hingga angan untuk anak-anak mereka.

Teja (55), penduduk Desa Sindang, mengatakan dirinya mengikuti tradisi tersebut untuk bermohon agar keinginannya bisa terkabul.

“Niatan saya, untuk kebahagiaan kita dan untuk cita-cita kita, semoga dikabulkan oleh Allah nan Maha Kuasa,” ujar Teja kepada kumparan.

Teja juga mengaku merasakan air sumur nan biasanya dingin sempat terasa hangat saat digunakan untuk mandi.

“Airnya sempat hangat,” katanya.

Meski malam semakin larut, penduduk tetap terus berdatangan untuk mengikuti Mandi Grujug.

Tradisi tersebut hingga sekarang tetap dipertahankan masyarakat sebagai bagian dari budaya dan kebiasaan nan sudah dilakukan secara turun-temurun.

Warga mengikuti Tradisi Mandi "Grujug" (Mengguyur) saat malam Maulid Nabi Muhammad di Masjid Pusaka Baiturrahmah Dermayu nan berumur sekitar 500 tahun, Selasa (25/8/2026) awal hari. Foto: Panji/kumparan
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan