AS Perluas Sanksi Ekonomi untuk Iran, Teheran Ancam Balas Dendam

Sedang Trending 40 menit yang lalu
Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Foto: VALENTIN FLAURAUD/AFP

Amerika Serikat (AS) memperluas hukuman ekonomi bagi Iran. Teheran merespons dengan menakut-nakuti bakal balas dendam.

Pemerintah Iran menegaskan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi tekanan Washington dan percaya negara-negara mitranya bakal menolak mengikuti kebijakan AS.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah hukuman baru terhadap Iran pada Senin (24/8). Namun, Washington belum menjatuhkan hukuman paling berat terhadap negara-negara nan tetap melakukan perdagangan dengan Iran.

Bessent mengatakan negara nan tetap bertransaksi dengan Iran berisiko dikeluarkan dari sistem finansial berbasis USD. Dia juga tidak mengungkap negara mana nan bakal menjadi sasaran maupun kapan balasan tersebut mulai diberlakukan.

Kementerian Keuangan AS dalam pengumumannya menjatuhkan hukuman terhadap 60 individu, entitas, dan kapal. Namun, tidak ada lembaga finansial China nan selama ini dicurigai membantu perdagangan minyak Iran dalam daftar tersebut.

Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan Teheran siap menghadapi hukuman baru dari Washington.

"Kami sepenuhnya siap menghadapi hukuman AS," kata Madanizadeh kepada televisi pemerintah Iran, seperti dikutip dari Reuters.

Dia menilai langkah Washington merupakan corak serangan ekonomi terhadap Iran. Madanizadeh mengatakan Teheran mempunyai sejumlah instrumen untuk merespons tekanan tersebut.

"Musuh kudu menunggu serangan," ujarnya.

Madanizadeh juga mengatakan China dan Rusia tidak menerima kebijakan AS tersebut. Dia memprediksi sejumlah negara lain juga bakal menolak mengikuti tekanan Washington.

Ancaman serupa disampaikan ahli bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi. Dia memperingatkan Iran bakal memberikan pukulan berat terhadap kepentingan vital AS dan titik-titik strategis daya jika prasarana Iran terancam.

Sementara itu, perang antara AS-Israel dan Iran tetap belum menunjukkan tanda-tanda menuju penyelesaian diplomatik. Konflik tersebut telah berjalan nyaris enam bulan sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Serangkaian serangan tersebut telah melemahkan sebagian keahlian militer konvensional Iran dan menekan perekonomian negara itu. Namun, Iran tetap mempunyai keahlian rudal dan drone nan cukup untuk menakut-nakuti negara-negara Teluk serta kapal tanker nan melintas di Selat Hormuz.

Kondisi program nuklir Iran juga tetap belum diketahui secara pasti. AS dan Israel sebelumnya menyatakan mau menghancurkan keahlian nuklir Iran.

Di tengah ketegangan tersebut, nilai minyak justru turun lebih dari USD 2 per barel pada Senin ini. Namun, penanammodal tetap mewaspadai kemungkinan gangguan pasokan minyak dari area Timur Tengah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan