FOMO tapi Enggan Berprogress: Fenomena Fixed Mindset Mahasiswa di Zona Nyaman

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Sumber: Aliaksei Lepik /Unsplash.

​​Di era digital seperti sekarang, kita sering kali memandang kejadian mahasiswa nan begitu ambisius di media sosial. Banyak dari kita nan menderita sindrom FOMO (Fear of Missing Out) setiap kali memandang pencapaian orang lain di timeline, hingga rasanya mau menguasai segala perihal agar terlihat produktif dan punya masa depan mentereng.

Namun ironisnya, ketika kesempatan nyata itu betul-betul datang di depan mata dan menuntut upaya ekstra, banyak mahasiswa nan mendadak ciut lampau memilih mundur. Ambisi besar nan tadinya menggebu-gebu di bumi maya mendadak menguap begitu saja, kalah oleh ketakutan untuk keluar dari area nyaman.

Ketika Rencana Besar Terjebak dalam Ilusi Fixed Mindset

Banyak dari kita nan sebenarnya sudah merancang ini-itu di dalam kepala, menyusun rencana masa depan dari A sampai Z dengan sangat rapi. Namun, kejadian nan sering terjadi di kalangan Gen Z adalah ketika hari H alias kesempatan emas itu betul-betul datang, tiba-tiba muncul rasa takut nan luar biasa.

Pikiran kita mendadak dipenuhi oleh banyak pertimbangan ini-itu nan ujung-ujungnya membikin kita bingung sendiri dan ragu untuk melangkah. Kita terjebak dalam perangkap menganalisis akibat secara berlebihan; takut jika kelak hasilnya jelek, takut jika capek, alias takut jika rupanya kita tidak sanggup menjalaninya.

Jika dibedah menggunakan kacamata Creative Thinking, momen ketika kita memilih mundur lantaran terlalu banyak pertimbangan negatif ini adalah parameter awal bahwa pola pikir kita sedang dikuasai oleh ketakutan bakal ketidakpastian.

Mengapa ketakutan untuk mencoba perihal baru ini begitu mendominasi style hidup mahasiswa hari ini? Akar masalahnya terletak pada apa nan disebut sebagai fixed mindset atau pola pikir statis. Seseorang dengan pola pikir ini condong tidak berani mengambil akibat lantaran mereka mempunyai kepercayaan keliru bahwa bakat, kecerdasan, dan keahlian seseorang itu sifatnya sudah menetap alias stuck.

Mereka berpikir bahwa keahlian kita ya udah itu-itu aja sejak lahir dan tidak bisa alias tidak mau diasah lagi. Akibatnya, mereka memandang kegagalan bukan sebagai proses belajar, melainkan sebagai momok nan memalukan dan vonis atas ketidakmampuan mereka. Pikiran ini membikin mereka memilih pasif dan enggan keluar dari area nyaman.

Visualisasinya persis seperti deretan bangku hitam nan terlipat dan tertumpuk rapi di perspektif ruangan; mereka terlihat kondusif dan tertata di tempatnya, tetapi perlahan usang dimakan waktu dan kehilangan fungsinya lantaran tidak pernah digunakan untuk menghadapi tantangan baru.

Visualisasinya persis kayak momen ketika kita udah ngebuka form pendaftaran organisasi alias lowongan kerja sampingan di laptop. Semua berkas udah siap di folder, tinggal klik tombol "Submit". Tapi tiba-tiba, muncul bisikan di kepala: "Gimana jika kelak ditolak?", "Kayaknya skill-ku belum selevel mereka deh", alias "Nanti jika keterima malah nggak bisa bagi waktu." Ujung-ujungnya, lantaran rasa takut dan ketidakpercayaan pada diri sendiri nan begitu besar, kursor laptop itu dijauhkan dari tombol daftar, tab pendaftaran ditutup rapat, dan kita kembali meringkuk di area kondusif tanpa pernah tahu seberapa besar potensi original nan kita miliki.

Mendobrak Batas Aman dengan Mengaktifkan Growth Mindset

​Padahal, mempertahankan pola pikir nan tetap hanya lantaran takut mencoba adalah sebuah kerugian besar bagi masa depan kita. Untuk mendobrak tembok ketakutan tersebut, mahasiswa wajib mengaktifkan growth mindset namalain pola pikir berkembang. Seseorang nan mempunyai growth mindset tidak bakal mau terus-terusan stagnan gitu aja di tempat nan sama.

Mereka mempunyai dorongan kuat serta motivasi tinggi untuk selalu mencoba hal-hal baru, dan nan paling penting, mereka punya keberanian untuk berhadapan langsung dengan tantangannya. Bagi mereka, talenta hanyalah titik awal, sedangkan kualitas original seseorang ditentukan dari seberapa gigih mereka mengasah keahlian tersebut lewat proses belajar nan konsisten. Mereka mengerti bahwa rasa resah di awal mencoba adalah perihal nan valid, namun mereka memilih untuk menjadikannya sebagai bahan bakar untuk melangkah maju, bukan argumen untuk berhenti.

Pada akhirnya, masa perkuliahan bukan sekadar tentang seberapa tinggi indeks prestasi nan tertulis di atas kertas, melainkan tentang seberapa berani kita mengeksekusi kesempatan dan keluar dari pemisah aman.

Menjadi mahasiswa nan relevan berfaedah kudu siap untuk tidak selalu merasa nyaman dengan kondisi nan ada. Tantangan di luar sana alias kondisi sekitar kita mungkin saja sedang tertutup rapat (closed), tetapi pastikan bahwa secara internal, pola pikir kita kudu tetap "always open-minded".

Jangan biarkan ketakutan membelenggu potensi besar nan kita miliki. Beranilah melangkah dan mencoba perihal baru, lantaran pertumbuhan sejati hanya bakal dimulai ketika kita berani melompat keluar dari area nyaman nan membelenggu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan