Filosofi Shin Tae-yong di Persija: Cari Pemain Berkarakter dan Mau Berkorban

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Cari Pemain Berkarakter dan Mau Berkorban PELATIH anyar Persija Jakarta, Shin Tae-yong (STY).(Dok. Antara)

PELATIH anyar Persija Jakarta, Shin Tae-yong (STY), mulai memancangkan standar tinggi bagi skuad Macan Kemayoran untuk mengarungi kejuaraan musim 2025/2026. Pelatih asal Korea Selatan tersebut menegaskan bahwa dirinya hanya menginginkan pemain nan mempunyai karakter kuat, mentalitas baja, dan kemauan besar untuk berjuang demi tim.

Dikutip dari laman resmi I.League pada Kamis (18/6/2026), STY menekankan bahwa kualitas teknis saja tidak cukup untuk masuk dalam skema permainannya. Ia menuntut semangat pengorbanan dan etos kerja tinggi sebagai syarat absolut bagi setiap penggawa Persija.

Filosofi Sepak Bola Modern STY

Menurut mantan pembimbing Timnas Indonesia tersebut, sepak bola modern saat ini sangat berjuntai pada kerja kolektif dan intensitas permainan. Hal inilah nan menjadi fondasi utama dalam menentukan keberhasilan sebuah tim di atas lapangan.

"Kami butuh pemain nan mau berkorban untuk tim. Pemain nan merasa ‘siapa saya’ dengan pundak nan kaku (sombong), tidak mau berkorban untuk tim, hanya berdiri tak bersuara dan tidak berlari keras di lapangan, tidak bakal saya pilih. Itulah filosofi nan saya pegang dalam sepak bola," tegas STY.

Definisi Pengorbanan di Lapangan

STY menjelaskan lebih perincian mengenai corak nyata dari pengorbanan nan dia maksud. Baginya, komitmen seorang pemain terlihat dari kesediaannya membantu tim dalam beragam situasi, termasuk saat transisi bertahan.

Ia memberikan ilustrasi bahwa seorang penyerang pun kudu mempunyai tanggung jawab pertahanan jika situasi menuntut demikian. Indikator ini menjadi tolok ukur krusial untuk memandang sejauh mana seorang pemain mengutamakan kepentingan tim di atas ego pribadi.

"Maksud dari mau berkorban untuk tim adalah meskipun dia berada di posisi paling depan (striker), ketika dia kehilangan bola, dia mau turun sampai ke area penalti kami sendiri untuk melakukan tekel, merebut bola, dan membawanya lagi," ucapnya menambahkan.

STY menilai membangun tim nan kuat tidak hanya berjuntai pada kualitas individu, melainkan pada kesamaan visi dan kesadaran kolektif untuk berjuang bersama-sama sepanjang pertandingan.

Meskipun tindakan heroik seperti mengejar bola hingga ke area pertahanan sendiri tidak mungkin dilakukan terus-menerus selama 90 menit, STY percaya bahwa kemunculan momen tersebut bakal memberikan akibat psikologis nan besar bagi tim.

"Tentu tidak bisa dilakukan setiap saat, tapi jika perihal seperti itu muncul satu alias dua kali saja demi tim, itu bakal membikin seluruh pemain menjadi satu dan berlari keras bersama," pungkasnya. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia