SUTRADARA Bayu Skak.(Dok. Antara)
SUTRADARA Bayu Skak kembali melakukan terobosan dalam industri sinema tanah air melalui proyek terbarunya berjudul "Foufo". Film produksi Sinemart dan Skak Studios ini mencoba mendefinisikan ulang batas aliran dengan menyatukan komponen fiksi ilmiah (sci-fi) pendaratan alien dengan drama emosional family Madura.
Dijadwalkan tayang di bioskop pada 9 Juli 2026, film Foufo mengangkat kisah seorang pemuda nan diperankan oleh Tretan Muslim. Di tengah perjuangannya mengumpulkan biaya untuk memberangkatkan ibunya naik haji, dia justru dipertemukan dengan tamu tak diundang dari luar angkasa nan mempunyai nilai tak terduga.
Pertaruhan Genre dan Keotentikan Budaya
Produser Eksekutif Sinemart, David Setiawan Suwarto, mengakui bahwa konsep nan ditawarkan Bayu Skak merupakan sebuah pertaruhan besar. "Saat mendengar sinopsisnya, ada rasa mau menolak sekaligus penasaran nan besar. Ini adalah campuran nan unik," ujar Suwarto dalam konvensi pers di XXI Plaza Senayan, Rabu (17/6).
Salah satu kekuatan utama movie ini terletak pada penggunaan bahasa. Bayu Skak mengungkapkan bahwa 70 persen perbincangan dalam movie menggunakan bahasa Madura, nan dipadukan dengan bahasa Jawa dan Indonesia. "Karakter-karakter ini berganti bahasa secara alami, mencerminkan kehidupan nyata di Surabaya Utara," jelas Bayu.
Teknologi Hibrida: Memangkas Waktu Produksi CGI
Dari sisi teknis, "Foufo" menggunakan pendekatan visual nan ambisius namun efisien. Alih-alih menggunakan rekayasa digital (CGI) penuh nan menyantap waktu lama, tim produksi memilih metode hibrida.
Sebanyak 120 animator asal Surabaya dilibatkan selama tujuh bulan untuk menyempurnakan perincian visual sang alien agar tetap terlihat menarik bagi penonton family modern.
Talenta Akar Rumput dan Kedalaman Cerita
Demi menjaga keotentikan, Skak Studios melakukan audisi terbuka di Surabaya nan diikuti oleh 2.500 peserta. Hasilnya, muncul nama-nama baru seperti Siti Kam (63) nan berkedudukan sebagai Ibu Saiqona. Untuk membangun chemistry, para pemain utama sempat menjalani masa karantina selama 45 hari di sebuah apartemen komunal di Jakarta.
Penulis skenario Achmad Faishol menyebut bahwa cerita ini sangat individual baginya. "Ini adalah eksplorasi hubungan saya dengan ibu dan misteri langit," ungkapnya. Kedalaman emosi ini apalagi sempat membikin Tretan Muslim terharu saat sesi pembacaan naskah di depan media.
Meski sempat diterpa rumor miring di media sosial mengenai pilihan politik para pemerannya pada Pemilu 2024, tim produksi tetap optimis. Tretan Muslim menegaskan agar penonton tetap konsentrasi pada karya seni nan dihasilkan. Dengan degub budaya nan kuat dan konsep tinggi, "Foufo" siap membuktikan bahwa sinema wilayah bisa bersaing di level nan lebih luas. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·