Festival Kuliner Jadi Pintu Masuk Edukasi Gaya Hidup Halal

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Festival Kuliner Jadi Pintu Masuk Edukasi Gaya Hidup Halal Ilustrasi(Dok Halalicious 2026)

FESTIVAL kuliner menjadi sarana memperkenalkan style hidup halal sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih jeli memastikan kehalalan makanan nan dikonsumsi. Misi tersebut diusung Halalicious 2026 nan menghadirkan beragam kuliner legal sekaligus membuka ruang bagi upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Festival kuliner tersebut menjadi bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 nan berjalan pada 14-18 Oktober di Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan, Jakarta.

Sebanyak 66 tenant berperan-serta menawarkan beragam sajian mulai dari makanan viral dan kuliner unik Indonesia hingga hidangan Jepang serta Timur Tengah. Ekonom Senior Bank Indonesia Aulia Fitria Y mengatakan Halalicious dirancang untuk menjangkau masyarakat luas melalui kuliner. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan menerapkan style hidup legal dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita mau membujuk siapa pun untuk menikmati kuliner legal dan mempunyai style hidup legal melalui kuliner. Bagi UMKM nan bergabung, aktivitas ini menjadi wahana untuk memperkenalkan kuliner mereka nan legal dan tayib lantaran sudah bersertifikasi halal,” kata Aulia.

Penyelenggaraan tahun ini juga dilengkapi coffee corner B nan diisi tenant kopi UMKM bimbingan Bank Indonesia. Menurut Aulia, pagelaran tersebut memberikan faedah bagi visitor sekaligus pelaku usaha. Selain memperkenalkan pilihan kuliner legal kepada konsumen, aktivitas itu menjadi wadah bagi UMKM untuk mempromosikan produk nan memenuhi ketentuan legal dan tayib ialah baik serta layak dikonsumsi.

Aspek edukasi menjadi salah satu perhatian penyelenggara. Melalui keikutsertaan tenant nan telah mempunyai sertifikat halal, masyarakat diharapkan semakin terbiasa memeriksa status kehalalan produk sebelum mengonsumsinya. Edukasi mengenai style hidup legal juga tersedia di area lain dalam rangkaian ISEF, termasuk nan berangkaian dengan makanan dan fesyen.

“Kami mau membangun kebiasaan masyarakat, khususnya umat muslim, agar setiap mengonsumsi sesuatu kehalalannya kudu dipastikan,” imbuh Aulia.

Dari sisi penyelenggaraan, Halalicious tahun ini menempati area nan lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya. Perluasan tersebut memungkinkan lebih banyak UMKM bergabung, seiring meningkatnya minat pelaku upaya untuk berpartisipasi. Penyelenggara melakukan kurasi dengan mempertimbangkan sertifikasi halal, karakter produk, tren kuliner, serta keberagaman sajian lokal dan mancanegara. Kehadiran makanan nan terkenal di media sosial juga menjadi daya tarik festival.

Pengunjung dapat menemukan beragam pilihan kuliner dalam satu letak tanpa kudu mendatangi sejumlah tempat berbeda untuk mencicipi makanan nan sedang tren. Penyelenggara menargetkan kunjungan sekitar 20.000-30.000 orang selama lima hari pelaksanaan. Sebagai gambaran, Aulia menyebut omzet rata-rata UMKM peserta pada penyelenggaraan tahun sebelumnya berkisar Rp30 juta-Rp40 juta selama lima hari.

Pihak penyelenggara menargetkan pagelaran kuliner legal tersebut dapat terus digelar sebagai bagian dari upaya mendukung perkembangan ekonomi syariah. Keberlanjutan diharapkan memberikan faedah bagi masyarakat dan pelaku upaya sekaligus memperluas pemahaman mengenai produk halal. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑