Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem nan melanda Eropa mulai mengubah kebiasaan masyarakat Prancis nan selama ini dikenal enggan menggunakan pendingin ruangan (AC). Di tengah suhu nan terus meningkat, semakin banyak penduduk memilih memasang AC demi menjaga kenyamanan dan kesehatan family mereka.
Prancis, telah mencatat hari terpanas sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1947. Kondisi tersebut membikin jutaan orang kudu memperkuat menghadapi panas di apartemen, sekolah, hingga panti jompo nan dinilai belum dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem.
"Saya tidak dibesarkan dengan AC," kata Matthieu Ruquet, penduduk berumur 35 tahun asal Nice, dikutip CNA, Kamis (25/6/2026).
Namun setelah suhu di apartemennya di pinggiran Paris mencapai 36 derajat Celcius, dia akhirnya memutuskan membeli AC portabel. Ini juga terjadi lantaran dorongan istrinya nan berkebangsaan Amerika.
"Saya pikir ini sedang berubah. Tetapi masalah utama bagi saya adalah membeli AC bakal membikin planet ini semakin panas," ujarnya.
Kekhawatiran tersebut mencerminkan pandangan kebanyakan masyarakat Prancis. Survei terbaru menunjukkan delapan dari 10 penduduk menganggap AC tidak ramah lingkungan lantaran memerlukan konsumsi daya nan besar.
Namun sejumlah mahir menilai akibat lingkungan AC di Prancis tidak sesederhana itu. Ahli Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), Francois Gemenne, mengatakan penggunaan AC belum menjadi masalah besar bagi lingkungan Prancis lantaran negara itu tidak terlalu berjuntai pada bahan bakar fosil, di mana 70% listrik Prancis tahun lampau berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Meski demikian, para master menegaskan AC bukan solusi tunggal menghadapi perubahan iklim. Perencana kota Clement Gaillard menilai persoalan utama justru terletak pada kreasi gedung nan tidak disiapkan untuk menghadapi suhu nan semakin panas.
Banyak gedung modern mempunyai jendela kaca besar di Prancis. Sementara rumah-rumah berinsulasi baik untuk musim dingin justru menyimpan panas saat musim panas.
AC juga mempunyai pengaruh samping. Selain menggunakan cairan pendingin nan berpotensi mencemari lingkungan, perangkat ini membuang udara panas ke luar ruangan.
Peneliti Pusat Penelitian Lingkungan dan Pembangunan Internasional (CIRED), Vincent Viguie, mengatakan kejadian tersebut dapat meningkatkan suhu lokal di area perkotaan nan padat dan minim ventilasi. Simulasi di Kota Lyon menunjukkan penggunaan AC pada kebinasaan gedung berpotensi meningkatkan suhu udara sekitar hingga 1,75 derajat Celsius.
Meski begitu, penelitian terbaru CIRED menunjukkan solusi pengganti seperti memperbanyak ruang hijau dan pembaharuan gedung juga mempunyai keterbatasan. Dalam simulasi gelombang panas ekstrem di wilayah Paris pada periode 2070-2100, penghapusan seluruh AC membikin penduduk tetap terpapar suhu di atas 32 derajat Celcius selama enam jam setiap hari.
Perdebatan mengenai AC sekarang apalagi memasuki arena politik menjelang pemilihan presiden Prancis tahun depan. Tokoh sayap kanan Marine Le Pen mendorong akses AC nan lebih luas dengan argumen suhu ekstrem dapat menakut-nakuti nyawa, sebaliknya, pemimpin kiri Jean-Luc Melenchon menilai pemasangan AC secara masif hanya menjadi solusi semu nan justru memperparah krisis iklim.
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·