Jakarta -
Kemudahan akses jasa finansial digital seperti pinjaman online (pinjol) dan jasa buy now pay later (BNPL) menjadi salah satu langkah paling sigap bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari nan mendesak. Namun, kondisi ini membikin masyarakat semakin sering berutang.
Bahkan saat ini, tak sedikit masyarakat nan mulai berutang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini tercermin dari pola penggunaan jasa angsuran PT Kredivo Finance Indonesia (Kredivo).
Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, mengatakan saat ini terjadi pergeseran pola konsumsi pengguna jasa angsuran perusahaan. Jika sebelumnya jasa tersebut banyak digunakan untuk membeli produk dengan nilai transaksi besar (high ticket size) seperti gadget dan produk elektronik lainnya, sekarang lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kayak high ticket size multi-gadget, elektronik, memang agak melambat. Tapi ada perpindahan ke kategori lain, kebutuhan misalnya pulsa, groceries. Jadi kita memandang hanya pergeseran di kategori saja secara transaksi, namun secara overall transaksi tidak ada perlambatan nan signifikan," katanya dalam konvensi pers di Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
Namun, saat ditanya apakah pergeseran perilaku masyarakat tersebut disebabkan oleh penurunan daya beli, Indina mengaku belum bisa memastikannya. Menurutnya, perubahan pola konsumsi itu juga bisa dipengaruhi beragam program dan promo nan dijalankan perusahaan.
"Kalau kita sebenarnya melihatnya baru dua bulan ini ya, jadi kita tetap mengkaji, dan kita juga melakukan beberapa program. Jadi kita tetap mengkaji apakah kenaikan ini lantaran kondisi ekonomi alias lantaran kami lakukan program," jelas Indina.
"Jadi saya belum bisa sebut perspektifnya dan saya belum bisa sebut jika ini apakah masalah ekonomi alias lantaran produk. Tapi nan kita rasakan bahwa pengguna Kredivo tuh sekarang sudah tidak menggunakan Kredivo hanya untuk membeli handphone ataupun kategori seperti high ticket size ya. Tapi juga rupanya secara daily use case misalnya mereka ke supermarket seminggu mungkin Rp 50.000-60.000 itu mereka sudah terbiasa menggunakan Kredivo gitu," ujarnya lagi.
Di luar itu, dia meyakini jasa paylater sekarang telah menjadi salah satu metode pembayaran nan lazim digunakan masyarakat. Karena itu, peningkatan penggunaan jasa tersebut juga dipengaruhi perubahan langkah masyarakat bertransaksi.
"Kami melihatnya Kredivo alias paylater lainnya sudah menjadi metode pembayaran mainstream. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari mereka nyaman bertransaksi dan menggunakan akomodasi bayar nanti, walaupun tadi mungkin cicilannya bukan tiga bulan alias enam bulan gitu ya, tapi hanya bayar kelak satu bulan," tandasnya.
Masyarakat Masuk Fase Gali Lubang Tutup Lubang
Sebelumnya, dalam catatan detikcom, Pefindo Biro Kredit (IdScore) melaporkan pertumbuhan jasa Buy Now Pay Later (BNPL) alias paylater mencapai 86,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026. Pertumbuhan ini melampaui angsuran konsumtif konvensional.
Pertumbuhan jasa paylater paling tinggi berasal dari industri peer-to-peer (P2P) lending alias pinjaman online (pinjol), ialah sebesar 153,49% yoy dengan outstanding Rp 16,9 triliun.
Di posisi kedua, pertumbuhan paylater dari bank digital mencapai 37,12% yoy dengan outstanding Rp 16,2 triliun. Sementara itu, bank umum mencatat pertumbuhan paylater sebesar 6,81% yoy dengan outstanding Rp 18,9 triliun.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan outstanding utang masyarakat Indonesia pada jasa pinjol secara keseluruhan telah mencapai Rp 103,73 triliun per Mei 2026. Total utang pinjol tersebut meningkat 25,60% secara tahunan.
Outstanding pinjol juga meningkat dibandingkan April 2026 nan tercatat sebesar Rp 102,07 triliun. Artinya, dalam kurun sebulan, total pinjaman masyarakat melalui platform pinjol bertambah sekitar Rp 1,66 triliun.
Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad mengatakan pertumbuhan outstanding utang pinjol dan paylater nan terus meningkat menunjukkan masyarakat semakin mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau lihat growth-nya berfaedah makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik lantaran kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu nan kita lihat daripada pinjaman produktif untuk bumi usaha," kata Tauhid kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Namun, nan menjadi persoalan, jasa pinjaman tersebut disertai kembang nan kudu dibayar berbareng pokok utang sehingga membikin beban pengeluaran masyarakat semakin berat.
"Memang NPL-nya saya kira tetap relatif terjaga. Tapi beban masyarakat dengan kembang segitu besar. Sehingga ini membikin masyarakat akhirnya model gali lubang tutup lubang. Baru selesai, dia sudah pinjam nan lain. Nah ini nan saya kira membikin masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya," terangnya.
Karena itu, Tauhid menilai saat ini terjadi pergeseran dari kejadian "makan tabungan" menjadi "makan utang" untuk memperkuat hidup, terutama pada golongan masyarakat menengah ke bawah.
"Justru nan tabungannya sedikit alias tidak punya tabungan kemungkinan juga menjadi konsumen terbesar untuk pinjaman online seperti ini," tegas Tauhid.
(igo/fdl)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·