Ilustrasi--Siswa SD memberikan hormat kepada bendera Merah Putih mengikuti upacara bendera di SD Negeri Inpres Pasir Dua, Jayapura, Papua, Sabtu (17/08/2024).(ANTARA/Gusti Tanati)
FENOMENA konten "anak AC" nan viral di media sosial belakangan ini memicu obrolan hangat mengenai ketangguhan Generasi Alfa. Istilah ini merujuk pada anak-anak nan dianggap kurang bisa memperkuat saat kudu beraktivitas di bawah terik matahari, seperti saat upacara bendera, lantaran terbiasa dengan kenyamanan akomodasi modern.
Menanggapi perihal tersebut, Ahli Pengasuhan dan Perkembangan Anak dari IPB University, Prof Dwi Hastuti, mengingatkan bahwa kemudahan teknologi membawa tantangan baru dalam pola asuh. Menurutnya, anak tetap perlu dilatih menghadapi ketidaknyamanan agar tumbuh menjadi pribadi nan handal dan adaptif.
Karakteristik Generasi Alfa
Generasi Alfa adalah mereka nan lahir di era digitalisasi total. Berikut adalah profil singkat generasi ini berasas info nan dihimpun:
| Rentang Tahun Lahir | 2010 – 2025 |
| Estimasi Usia Saat Ini | 1 – 16 Tahun |
| Lingkungan Tumbuh | Teknologi info pesat, digitalisasi, akomodasi kenyamanan tinggi (AC). |
| Risiko Karakter | Potensi daya juang dan ketahanan mental nan lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. |
"Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membikin anak-anak gen Alfa condong terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya," ujar Prof Tuti.
Dampak Gaya Hidup Instan
Prof Tuti menjelaskan bahwa style hidup di sekitar anak turut membentuk karakter mereka. Kehadiran media sosial membikin anak sering membandingkan situasi dirinya dengan orang lain alias tokoh nan mereka ikuti. Selain itu, akomodasi nan serba ada memicu pola pikir instan.
Sebagai contoh, saat merasa kepanasan, anak condong langsung menyalakan AC tanpa mencoba solusi pengganti seperti menggunakan kipas tangan alias mengganti busana nan lebih menyerap keringat. Kebiasaan ini, menurut Prof Tuti, dapat menghalang keahlian anak dalam mencari solusi saat menghadapi masalah di masa depan.
Budaya praktis juga terlihat dari minimnya aktivitas bentuk (sedentary life). Jika dulu anak terbiasa melangkah kaki ke sekolah, sekarang aspek keamanan dan efisiensi membikin banyak anak selalu diantar jemput dengan kendaraan pribadi nan nyaman.
Peran Orangtua dalam Membangun Ketangguhan
Untuk mengatasi akibat mental "lembek", Prof Tuti menekankan pentingnya peran orangtua dalam memberikan teladan dan pemahaman. Orangtua tidak boleh hanya memberikan fasilitas, tetapi juga kudu melatih manajemen akibat pada anak.
"Ajak anak untuk mengalami juga gimana jika dia kudu jalan kaki, gimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya jenis akomodasi nan membantu mereka. Hal ini agar anak terbiasa dengan manajemen risiko, sehingga dia tidak mudah menyerah serta mudah putus asa," jelasnya.
Beberapa langkah nan disarankan Prof Tuti untuk orang tua antara lain:
- Melatih kemandirian anak dalam mengelola diri sendiri.
- Mengajak anak memandang beragam kondisi sosial untuk melatih empati.
- Membiasakan obrolan mengenai argumen di kembali sebuah pilihan alias keputusan.
- Memberikan ruang bagi anak untuk merasakan ketidaknyamanan nan terkendali.
Sebagai penutup, Prof Tuti mengingatkan bahwa kunci keberhasilan di masa depan bukan terletak pada akomodasi nan dimiliki, melainkan pada keahlian perseorangan untuk menjadi pribadi nan agile (tangkas), kreatif, dan bisa menyelesaikan masalah secara mandiri. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·