ilustrasi(Antara)
Kasus perlemakan hati alias fatty liver yang dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) semakin banyak ditemukan pada golongan usia muda, terutama usia 30-an tahun. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Widya Khairunnisa Sarkowi, menjelaskan bahwa fatty liver terjadi akibat penumpukan lemak di hati nan berangkaian dengan gangguan metabolisme tubuh. Menurutnya, penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis nan jelas dan dapat berujung pada kerusakan hati permanen.
“Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi) alias tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, glukosuria melitus, maupun gangguan metabolik lainnya mempunyai akibat lebih tinggi mengalami fatty liver,” kata Widya dalam keterangannya, Sabtu (20/6).
Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat. Sementara itu, berasas Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023. Adapun prevalensi obesitas sentral pada masyarakat usia di atas 15 tahun mencapai 36,8%.
Menurut dr Widya, tingginya nomor tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya masalah metabolik di masyarakat, seperti obesitas, obesitas sentral alias perut buncit, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurangnya aktivitas fisik.
Meski begitu, dia menyebut bahwa fatty liver tidak hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih. Orang dengan berat badan normal tetap dapat mengalami perlemakan hati andaikan mempunyai perut buncit, resistensi insulin, diabetes, pola makan tinggi gula, alias kurang aktivitas fisik.
Widya menambahkan, fatty liver bukan sekadar masalah pada organ hati, melainkan penanda adanya gangguan metabolik di seluruh tubuh. Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur solusi instan seperti suplemen, produk detoks, alias herbal nan diklaim dapat “membersihkan hati”.
“Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup nan sehat. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan style hidup tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan, Widya menyampaikan lima pesan edukasi krusial nan sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pertama, menurunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan sekitar 5%-10% diketahui dapat mengurangi lemak hati, peradangan, dan akibat fibrosis.
Kedua, mengurangi konsumsi minuman manis seperti teh manis, kopi susu dengan gula tinggi, minuman boba, soda, minuman kemasan, dan sirup nan menjadi sumber gula cair dengan kalori tinggi.
“WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan daya harian, apalagi idealnya di bawah 5 persen,” ujarnya.
Ketiga, menerapkan pola makan seimbang dengan komposisi separuh piring berisi sayur dan buah, seperempat protein, serta seperempat karbohidrat. Masyarakat juga disarankan membatasi makanan ultraproses, gorengan, makanan manis, dan camilan tinggi kalori.
Keempat, melakukan aktivitas bentuk secara rutin. WHO merekomendasikan aktivitas bentuk intensitas sedang selama 150-300 menit per minggu alias sekitar 30 menit per hari selama lima kali dalam seminggu. Latihan beban dua kali seminggu juga dianjurkan untuk meningkatkan massa otot dan sensitivitas insulin.
Kelima, melakukan pemeriksaan aspek akibat secara berkala, termasuk pengukuran lingkar perut, indeks massa tubuh (IMT), kadar gula darah, profil lipid, tekanan darah, hingga pemeriksaan kegunaan hati dan USG abdomen jika diperlukan.
Lebih lanjut, Widya menekankan bahwa pencegahan fatty liver sebaiknya dimulai sejak usia anak. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) merekomendasikan skrining fatty liver pada anak obesitas mulai usia 9-11 tahun, terutama jika disertai aspek akibat tambahan seperti resistensi insulin, diabetes, dislipidemia, alias riwayat family dengan fatty liver.
“Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, perbanyak aktivitas luar ruang, kurangi waktu layar (screen time), tidur cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses,” ujarnya.
Pada remaja, edukasi perlu dikaitkan dengan style hidup modern, seperti konsumsi minuman kekinian, makanan sigap saji, kebiasaan begadang, kurang bergerak, dan stres nan dapat meningkatkan akibat obesitas serta gangguan metabolik.
Sementara itu, pada golongan dewasa muda, masyarakat dianjurkan mulai rutin memantau berat badan, lingkar perut, tekanan darah, gula darah, dan kadar lipid, terutama jika mempunyai riwayat family diabetes, obesitas, alias penyakit jantung. Pada usia di atas 40 tahun, penemuan awal perlu dilakukan lebih aktif lantaran akibat beragam penyakit metabolik semakin meningkat.
Widya juga mengingatkan agar masyarakat tidak menormalisasi hasil pemeriksaan fatty liver ringan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, sirosis, apalagi kanker hati jika tidak ditangani dengan baik. Ia menekankan pentingnya kerjasama lintas sektor.
“Pencegahan fatty liver memerlukan kerjasama semua pihak lantaran masyarakat bakal susah menerapkan style hidup sehat andaikan makanan tinggi gula dan lemak lebih mudah diakses, lebih murah, dan lebih banyak dipromosikan dibandingkan pilihan nan sehat,” pungkasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·