Kini, masyarakat Indonesia sudah mulai awam dengan sebuah aktivitas feminisme nan rupanya telah melangkah sejak waktu nan begitu lama. Feminisme merupakan sebuah aktivitas nan bermaksud untuk mengupayakan keadilan terhadap gender. Pada awal terbentuknya, feminisme tumbuh oleh adanya sebuah aktivitas nan membatasi ruang mobilitas perempuan. Seiring perkembangannya, feminisme tidak hanya berfokus pada kesetaraan kewenangan untuk perempuan, tetapi nan dilingkupi semakin luas. Bahkan mengenai kewenangan laki-laki sekalipun. Namun, kenapa aktivitas feminisme ini tetap sering kali dianggap sebagai sebuah aktivitas anti-laki-laki (misandri) alias men-hating?
Feminisme semakin menjadi topik perdebatan dengan banyaknya dugaan di media sosial nan mengatasnamakan aktivitas feminisme tetapi menjurus terhadap sikap misandri. Perlu ditekankan bahwa feminisme bukan sebuah aktivitas misandri. Misandri sendiri merupakan musuh dari misogini. Jika misogini adalah sebuah aktivitas nan mengagungkan laki-laki dengan tidak mengindahkan peran perempuan, maka misandri adalah sebaliknya.
Misandri bakal menganggap wanita nan lebih mempunyai peran daripada laki-laki sehingga dikaitkan dengan kejadian matriarki dan philogynist. Namun, feminisme nan sebenarnya tidak melangkah seperti itu. Feminisme tidak mengharapkan adanya superioritas perempuan, melainkan keadilan dan kesetaraan antara wanita dan laki-laki.
Menurut Fiss (1994, hlm. 413), feminisme adalah sebuah pendapat nan berangkaian dengan aktivitas sosial dan politik untuk mencapai kesetaraan pada perempuan. Feminisme dianggap sebagai sebuah ideologi nan mempunyai pengaruh terhadap aktivitas perempuan. Sementara itu, feminis sebagai orang nan bergerak dalam feminisme mempunyai peran untuk melakukan proses presentasi diri serta mengaitkan makna tubuh dan sosial tentang “kewanitaan” (Delmar, 2018).
Feminisme bukan sebuah arena untuk menyebarkan kebencian, apalagi mendiskreditkan perseorangan nan lain. Feminisme semestinya menjadi sebuah ideologi nan dapat menciptakan suasana nan setara dan tenteram terhadap kelamin tanpa adanya diskriminasi ataupun superioritas. Namun untuk memahami feminisme secara lebih mendalam, diperlukan pula tentang awal dari feminisme itu sendiri. Hal ini agar tidak adanya konsep feminisme nan berkelindan dengan misandri.
Feminisme nan Semakin Kabur
Setelah melalui perjalanan dan perkembangan nan begitu panjang, nilai dan makna feminisme ini mulai menjadi kabur. Meski tetap banyak nan terus menyuarakan dan menggalakkan aktivitas feminisme, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak misintrepretasi nan beredar. Melalui misintrepretasi ini, aktivitas feminisme mulai dipandang sebagai aktivitas misandri. Bahkan tumbuh dugaan bahwa wanita pemalas dan mau selalu diistimewakan. Secara lebih singkat, ini membawa pada superioritas wanita terhadap peran serta laki-laki.
Kaburnya nilai nan diangkat oleh aktivitas feminisme ini sangat disayangkan. Padahal, feminisme sendiri telah melebarkan konsentrasi rumor nan diangkat. Mulai dari kesetaraan kelamin antara laki-laki dan perempuan, pernikahan dini, hingga kekerasan seksual baik nan dialami oleh anak-anak, laki-laki, maupun perempuan. Hal ini juga telah menjadi perbincangan di kancah PBB dan semakin banyak tersebar dengan pidato nan disampaikan oleh Emma Watson dengan tajuk HeForShe.
Mengutip dari laman UN Women (2014), Watson dalam pidatonya menyampaikan bahwa kesetaraan kelamin juga memerlukan peran laki-laki. Banyak laki-laki terkungkung dengan stereotip gender, tetapi tidak banyak orang nan mau mengubahnya alias sekadar membicarakannya. Tidak jarang, laki-laki merasakan ketidaksetaraan. Oleh lantaran itu, laki-laki dan wanita kudu merasa bebas untuk menjadi pribadi nan sensitif maupun menjadi kuat.
Semakin banyaknya pengguna aktif media sosial, semakin banyak pula pro dan kontra terhadap aktivitas feminisme. Banyak orang, terlebih wanita nan semakin mengerti bakal istilah dan teori nan terbentuk di Eropa ini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pula nan menganggap aktivitas ini sebagai sebuah aktivitas misandri.
Para feminis juga seringkali dianggap mempunyai standar dobel terhadap kejadian sosial nan berangkaian dengan gender. Beberapa apalagi mulai memberikan contoh komparasi bakal aktivitas feminisme ini. “Jika wanita mau setara dengan laki-laki, semestinya wanita juga kudu mau angkat galon,” “Kalau begitu, jika ada wajib militer, wanita juga semestinya ikut dong!” Kata-kata seperti ini acap kali ditemui ketika membahas tentang feminisme dan hak-hak perempuan. Namun apakah ini nan sebenarnya mau disuarakan melalui feminisme?
Feminisme sebagai sebuah aktivitas nan meminta hak-hak perempuan, mempunyai tujuan agar wanita dapat melakukan apa nan diinginkan. Feminisme memberikan kesempatan bagi wanita untuk menentukan pilihannya. Feminisme juga memberikan ruang bagi para wanita untuk mempunyai hak-hak nan adil.
Sebagai contoh, wanita perlu diberikan kesempatan untuk berkecimpung dalam aktivitas sosial maupun politik dalam bangku pemerintahan seperti halnya laki-laki. Perempuan semestinya mempunyai kesempatan untuk melakukan hal-hal nan disenangi tanpa adanya paksaan maupun diskriminasi. Perempuan bisa saja senang memasak, maka dia kudu melakukannya oleh kemauan sendiri bukan lantaran memenuhi ekspektasi dan stereotipe masyarakat.
Sebaliknya, wanita bisa saja menjadi seorang pekerja lantaran menginginkannya dan layak mendapatkan penghasilan nan layak. Perempuan bisa saja tetap tinggal di rumah, mengurus keluarga, dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya lantaran dia memang menginginkannya. Bukan lantaran paksaan alias penilaian orang lain. Kata kunci paling utama adalah memberikan wanita kesempatan untuk melakukan sesuatu perihal tanpa adanya kekangan maupun paksaan.
Sayangnya, pengertian feminisme nan seperti inilah nan mulai kabur. Lantas digantikan dengan persepsi nan malah membikin feminisme ini dipandang buruk. F word, begitu feminisme disebut. Lahir atas dugaan jelek bakal aktivitas ini, "jangan menyebutnya alias kau bakal mendapat serangan." Beberapa wanita apalagi secara terang-terangan menyatakan bahwa tidak mendukung aktivitas feminisme ini lantaran adanya stereotip bahwa feminis adalah wanita nan malas.
Keengganan melabeli diri sebagai feminis ini juga timbul lantaran adanya diskursus dan stereotipe bahwa feminis mempunyai sifat nan mendominasi, agresif, intoleran, apalagi membenci laki-laki (Moi, 2006). Diskursus dan stereotipe ini contohnya adalah saat Pat Robertson menulis sebuah surat kepada pendukung organisasi evangelis Christian Coalition. Dilansir dari The Washington Post (1992), Robertson mengatakan bahwa feminisme merupakan sebuah agenda anti family nan mendorong wanita untuk meninggalkan suami mereka, membunuh anak-anak mereka, mempraktikkan pengetahuan sihir, menghancurkan kapitalisme, dan menjadi lesbian.
Tentu makna ini sudah sangat menyimpang dengan makna feminisme nan sebenarnya. Beberapa pengguna media sosial mungkin menulis bahwa para feminis bakal membenci perempuan-perempuan nan menjadi ibu rumah tangga dan senang menyiapkan bekal untuk keluarganya. Alih-alih membenci, pendekatan dengan feminisme justru menganggap bahwa perihal tersebut adalah sesuatu nan benar. Tentu lantaran wanita mempunyai kewenangan untuk memilih dan menentukkan sendiri apa nan diinginkan.
Tidak dapat dipungkiri juga, kekaburan dari nilai feminisme membikin mereka nan melabeli diri sebagai feminis juga mempunyai kebencian terhadap laki-laki. Entah secara sadar maupun tidak sadar. Hal ini pun kemudian menimbulkan kejadian baru. Dengan mencampur adukkan feminisme dengan aktivitas misandri ini, maka bakal timbul superioritas sehingga kesetaraan pun tidak bakal tercapai. Maka kejadian ini melawan ideologi feminisme itu sendiri nan menginginkan adanya kesetaraan kewenangan gender.
Jika wanita tidak mau tinggal di lingkungan patriarki dan misogini, maka semestinya mereka juga tidak mendukung misandri. Dengan begitu, harmoni dalam masyarakat pun bakal tercipta tanpa adanya salah satu pihak superior. Pandangan jelek serta nilai dan pemisah nan kabur ini lantas memunculkan adanya aktivitas anti feminisme. Hal ini tentu membawa kembali pada kemunduran terhadap keadilan peran dan kewenangan perempuan.
Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi terhadap nilai-nilai dan batas-batas dari feminisme itu sendiri. Tujuan dari revitalisasi ini adalah agar memperjelas perihal nan mau dicapai oleh feminisme itu sendiri sehingga tidak berkelindan dengan misandri alias men hating.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·