Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, beranjak dari satu video ringkasan movie ke video lainnya di YouTube ataupun TikTok? Di Indonesia, kanal-kanal nan menyajikan konten alur cerita movie alias film recap kini sangat terkenal dan ditonton hingga ratusan juta kali.
Kebiasaan ini sangat masuk akal. Di era digital saat ini, kita condong menyukai konten nan padat, ringkas, dan langsung pada intinya. Sebuah penelitian nan mengkaji perilaku penonton YouTube di kalangan mahasiswa apalagi membuktikan bahwa 94% orang menonton ringkasan movie murni demi mencari intermezo instan. Selain itu, 90% penonton menjadikan konten ini sebagai jalan pintas untuk mengetahui akhir sebuah cerita tanpa perlu menghabiskan waktu dua jam untuk menonton movie aslinya secara utuh.
Mencari intermezo sigap tentu sah-sah saja. Namun, di kembali kepraktisan ini, pernahkah kita menyadari apa nan sebenarnya lenyap ketika kita mengonsumsi karya seni layaknya makanan sigap saji?
Ada beberapa perihal krusial nan diam-diam terenggut dari kebiasaan ini, diantaranya:
Mengorbankan Nilai Seni demi Efisiensi Waktu
Menikmati movie sebenarnya bukan sekadar mencari tahu siapa pembunuhnya alias gimana tokoh utamanya selamat. Film adalah sebuah pengalaman rasa. Seorang filsuf berjulukan Walter Benjamin pernah menyebut bahwa setiap karya seni nan original mempunyai Aura alias keajaiban unik nan hanya bisa dirasakan jika kita datang seutuhnya untuk menikmati karya tersebut.
Sebuah movie nan bagus dirancang dengan sangat teliti. Ada musik nan mengiringi, perspektif kamera nan dramatis, dan jarak keheningan nan sengaja dibuat agar penonton ikut merasakan kesedihan alias ketegangan tokohnya. Ketika sebuah movie dipotong paksa dan dipadatkan menjadi sepuluh menit demi konten ringkasan, keajaiban itu hancur. Kita tidak lagi mengalami pengalaman unik dari karya tersebut, melainkan sekadar dijejali info secara pasif.
Penyederhanaan Alur serta Hilangnya Seni Bercerita
Pernahkah Anda sadar kenapa video rekap selalu terasa menegangkan dari awal hingga akhir? Secara ilmiah, proses meringkas movie memang dirancang unik untuk membuang bagian-bagian nan dianggap lambat. Pembuat ringkasan biasanya hanya mengambil adegan-adegan nan penuh konflik, tindakan tokoh utama, alias emosi nan meledak-ledak agar perhatian penonton tidak lepas dari layar.
Dalam konteks penulisan skenario, ada nan namanya kebenaran mentah (kejadian) dan seni bercerita (bagaimana kejadian itu disajikan dengan penuh teka-teki). Video ringkasan membuang habis-habisan seni bercerita tersebut. Misteri nan sengaja dibangun pelan-pelan oleh sutradara dihancurkan begitu saja. Akibatnya, kita memang tahu apa nan terjadi di akhir film, tapi kita kehilangan komponen kejutan dan kedalaman cerita nan sesungguhnya.
Matinya Ruang Empati dan Perenungan
Dampak paling mengkhawatirkan dari kecanduan menonton ringkasan movie adalah terbentuknya ilusi pengetahuan. Kita merasa sudah sangat mengerti tentang sebuah movie besar dan pesan moralnya, padahal kita hanya mengunyah kulit luarnya saja.
Menonton movie utuh melatih kita untuk bersabar. Kita diajak mengikuti proses jatuh bangun sang tokoh, merenungkan kesalahan mereka, dan menumbuhkan rasa empati. Sebaliknya, dalam video ringkasan, bunyi narator terus berbincang tanpa henti menjelaskan setiap detail, sehingga otak kita tidak diberi ruang sedikit pun untuk mencerna emosi dan menarik konklusi kita sendiri. Semuanya disuapkan secara instan. Tanpa sadar, perihal ini melatih kita menjadi manusia nan tidak sabaran dan kehilangan keahlian untuk merenung.
Di tengah rutinitas masyarakat modern nan padat, konten rekap movie di YouTube memang datang sebagai pengganti intermezo nan sangat efisien secara waktu. Menikmati ringkasan cerita sebagai pengisi waktu senggang tentu merupakan perihal nan wajar dan fungsional.
Namun, efisiensi konsumsi media ini tidak semestinya mengorbankan kapabilitas kita dalam mengapresiasi sebuah karya. Pemahaman moral dan keahlian kita untuk berempati menuntut proses perenungan nan tidak bisa dipadatkan secara mekanis dalam narasi sepuluh menit. Luangkanlah waktu untuk menonton sebuah movie secara utuh tanpa interupsi. Berikan ruang bagi pikiran Anda untuk memproses sebuah cerita secara perlahan, lepas dari kebiasaan serba instan nan terus memburu kita.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·