Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GW nan dicanangkan Presiden Prabowo Subianto telah masuk dalam revisi Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan pihaknya saat ini tengah mengupayakan penjadwalan dengan Presiden Prabowo untuk meresmikan tahap pertama proyek PLTS 100 GW tersebut. Menurutnya, proyek itu telah disusun berasas masterplan dan perencanaan nan matang.
"Nanti saya lagi usahakan meminta agenda Bapak Presiden untuk kita peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 gigawatt tahap pertama. Kan kita buat masterplan dengan perencanaan. Mungkin kita bakal buat di Bali," ujar Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).
Adapun, saat ditanya apakah proyek PLTS 100 GW merupakan proyek tersendiri alias telah masuk dalam revisi RUPTL, Bahlil menegaskan bahwa seluruh tahapan pembangunan telah mengikuti sistem nan berlaku.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan kapabilitas PLTS 100 GW telah tercantum dalam revisi RUPTL.
"100 GW sudah masuk (revisi RUPTL), peak loh ya, 100 GWp," kata Tri.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto mempercepat langkah transisi ke daya hijau salah satunya dengan sasaran pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kapabilitas raksasa. Dia menargetkan Indonesia bisa mencapai kapabilitas terpasang hingga 100 Gigawatt (GW) setidaknya pada 2029 mendatang.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah bakal memaksimalkan pemanfaatan listrik dari daya surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
"Kami mau bergerak sangat sigap untuk menggunakan listrik dari daya surya. Kami mempunyai rencana dan kami berkeinginan untuk melangkah secepat mungkin, dalam waktu tiga tahun, kami mau mencapai 100 gigawatt daya surya," ujar Prabowo dalam aktivitas Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).
Rencana percepatan pembangunan PLTS tersebut dinilai mendesak untuk direalisasikan. Menurutnya, eskalasi bentrok dan ketidakpastian geopolitik nan terus berkembang, khususnya di area Timur Tengah menjadi ancaman bagi stabilitas pasokan daya nasional.
"Bagi kami, perihal ini lebih mendesak lantaran situasi geopolitik di Timur Tengah memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan daya kami," tegas Prabowo.
Sebagai antisipasi, pemerintah terus berupaya mengamankan pasokan melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Selain tenaga surya, Indonesia juga mempunyai potensi besar di sektor panas bumi serta tengah menggenjot produksi bahan bakar nabati (biofuel) seperti biodiesel 50% (B50) dan bioetanol.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·