Feby Novalius
, Jurnalis-Selasa, 28 Juli 2026 |10:05 WIB

Perubahan perilaku konsumen di era digital mendorong industri imajinatif mengangkat strategi upaya berbasis data. (Foto :Okezone.com/Freepik)
JAKARTA - Perubahan perilaku konsumen di era digital mendorong industri imajinatif mengangkat strategi upaya berbasis data. Pelaku industri sekarang tidak hanya dituntut menghasilkan buahpikiran kreatif, tetapi juga memahami perilaku pasar melalui pemanfaatan teknologi dan kajian data.
Pendekatan berbasis info dinilai menjadi salah satu aspek krusial bagi perusahaan dalam menyusun strategi pemasaran nan lebih relevan. Melalui pengolahan data, pelaku upaya dapat memahami preferensi konsumen, mengukur efektivitas kampanye, serta menentukan langkah upaya secara lebih terarah.
CEO Feel Good Network Wisnu Satya Putra mengatakan perkembangan industri pemasaran saat ini menuntut adanya keseimbangan antara kreativitas, strategi, dan pengukuran kinerja.
"Pertumbuhan kudu dirancang, bukan sekadar dikejar. Hal ini memerlukan fondasi brand nan kuat, arah strategis nan jelas, dan keahlian menerjemahkan buahpikiran menjadi momentum nan dapat diukur," ujar Wisnu, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, integrasi antara produktivitas dan info menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi industri kreatif. Perusahaan perlu memahami bahwa keberhasilan kampanye tidak hanya dilihat dari sisi konsep, tetapi juga dari dampaknya terhadap tujuan bisnis.
Salah satu pelaku industri imajinatif nan menerapkan pendekatan tersebut adalah BRICKS. Agensi nan didirikan oleh Stephanie Putri Fajar dan Rangga Akbar Pradipta itu mengembangkan strategi pemasaran dengan memadukan kreativitas, data, dan pertimbangan performa.
Stephanie mengatakan peran agensi imajinatif saat ini mengalami perubahan. Selain menghasilkan materi kampanye, agensi juga dituntut memberikan masukan strategis nan dapat membantu perusahaan mencapai sasaran bisnis.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·