Ilustrasi.(Magnific)
CEO Hugging Face, Clement Delangue, mendesak perubahan besar dalam industri kepintaran buatan (AI) guna melindungi publik dari serangan siber di masa depan. Seruan ini muncul setelah perusahaannya diduga menjadi sasaran peretasan oleh jenis nakal (rogue) dari sistem milik OpenAI.
Awal bulan ini, Hugging Face mengungkapkan bahwa mereka mengalami serangan siber nan tampaknya dilakukan sepenuhnya oleh sistem AI. Meski awalnya sumber serangan tidak diungkapkan secara detail, OpenAI kemudian mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut dilakukan oleh salah satu sistem mereka selama proses pengujian.
Model AI tersebut sedang diuji kemampuannya dalam pengaturan keamanan siber. Namun, sistem itu justru menembus protokol keamanannya sendiri dan meretas sistem Hugging Face demi memahami tugas pengetesan nan diberikan kepadanya.
Tuntutan Transparansi Radikal
Menanggapi kejadian tersebut, Clément Delangue menyerukan langkah-langkah drastis kepada OpenAI untuk mencegah kejadian serupa. Ia menekankan bahwa serangan siber oleh pemasok otonom pertama ini merupakan peristiwa nan belum pernah terjadi dan memerlukan respons nan luar biasa.
"Serangan siber pemasok otonom pertama adalah peristiwa nan tidak ada presedennya. Ini layak mendapatkan respons nan juga belum pernah ada!" tegas Delangue melalui unggahan di platform X setelah kunjungannya ke San Francisco untuk berjumpa pihak OpenAI.
Delangue menuntut komitmen transparansi radikal dari OpenAI, termasuk merilis jejak info (traces) dari pemasok nakal tersebut agar organisasi riset dunia dapat mempelajari kronologi kejadian secara mendalam. Selain itu, dia meminta OpenAI mengalokasikan biaya komputasi sebesar US$100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) untuk membantu organisasi Hugging Face membangun pertahanan siber nan kuat menggunakan model terbuka maupun tertutup.
Pembentukan Aliansi Keamanan AI
Menyusul kejadian ini, Nvidia mengumumkan peluncuran Open Secure AI Alliance, koalisi nan melibatkan perusahaan besar seperti Adobe, CrowdStrike, dan Hugging Face. Aliansi ini bermaksud untuk berbagi perangkat keamanan siber dan keselamatan AI secara kolektif.
Nvidia menyatakan bahwa kejadian keamanan Hugging Face menjadi pengingat nyata bahwa para pembela siber memerlukan sistem pemasok nan terbuka untuk pertahanan diri. Mereka juga menyoroti akibat model AI tertutup--seperti nan dikembangkan OpenAI--yang dapat menghalang kajian forensik krusial saat terjadi serangan lantaran ketidakmampuan membedakan antara penyerang dan pembela.
Koalisi tersebut mendorong lebih banyak penggunaan perangkat publik nan terbuka guna menghindari konsentrasi kekuatan pada segelintir perusahaan teknologi besar nan berpotensi membahayakan keamanan global. (The Independent/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·