Diskusi publik berjudul Energy Justice and The Future of Indonesia: Upcoming Chapters We’re Writing for Our Children.(BBB)
Isu keadilan energi dan transisi menuju energi berkelanjutan dinilai semakin mendesak di tengah meningkatnya tekanan terhadap sektor daya nasional akibat gejolak global. Ketergantungan pada daya fosil serta perubahan nilai daya mendorong perlunya sistem daya nan lebih tangguh, adil, dan berorientasi jangka panjang demi menjamin kesejahteraan generasi mendatang.
Pandangan tersebut mengemuka dalam obrolan publik berjudul Energy Justice and The Future of Indonesia: Upcoming Chapters We’re Writing for Our Children yang digelar di Jakarta, Senin (27/7). Forum tersebut membahas tantangan daya Indonesia sekaligus pentingnya investasi pada sumber daya manusia sebagai fondasi transisi energi berkelanjutan.
Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku (BBB), Puty Karina Puar, mengatakan tema keadilan daya dipilih lantaran sepanjang beberapa bulan terakhir masyarakat menghadapi beragam persoalan di sektor energi, mulai dari kenaikan nilai bahan bakar minyak hingga LPG.
Menurut Puty, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan daya tidak dapat dipisahkan dari rumor perubahan suasana serta ketahanan ekonomi masyarakat. Ia menilai situasi ini menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem daya nasional agar lebih kuat menghadapi beragam tantangan di masa depan.
"Situasi ini menjadi pengingat bahwa sistem daya kita tetap rentan. Karena itu, sudah saatnya kita mendorong lahirnya sistem daya nan lebih baik dan lebih berkelanjutan," ujarnya.
Ia menjelaskan, eskalasi bentrok dunia sepanjang 2026 turut memengaruhi stabilitas harga minyak dunia nan berakibat pada meningkatnya biaya hidup masyarakat, mulai dari nilai bahan bakar, kebutuhan pokok, hingga tarif listrik. Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya mempercepat pengembangan daya terbarukan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan daya nasional.
Selain pengembangan daya bersih, Puty menilai investasi pada pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi aspek krusial agar Indonesia bisa menjalankan transisi daya secara berkelanjutan.
Diskusi tersebut menghadirkan mantan Menteri Perdagangan RI sekaligus host Endgame Podcast, Gita Wirjawan, serta Wakil Direktur Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi FEB Universitas Indonesia nan juga personil Aliansi Ekonom Indonesia, Rizki Nauli Siregar. Keduanya membahas tantangan pengelolaan sumber daya alam, pembangunan manusia, hingga strategi memperkuat daya saing Indonesia di tengah dinamika kawasan.
Pada kesempatan nan sama juga diluncurkan kitab karya Gita Wirjawan berjudul What It Takes: Southeast Asia. Puty menilai kitab tersebut menyajikan beragam info nan memberikan gambaran mengenai posisi Indonesia dibandingkan negara-negara Asia Tenggara.
Menurutnya, kitab tersebut tidak hanya mengulas beragam tantangan nan dihadapi Indonesia, tetapi juga menawarkan beragam solusi melalui pendekatan berbasis info dan komparasi regional. Dengan membandingkan Indonesia dengan negara-negara tetangga, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman nan lebih utuh mengenai beragam aspek nan tetap perlu diperbaiki, termasuk di sektor pendidikan.
Melalui forum ini, para penyelenggara berambisi masyarakat, khususnya para orang tua, semakin memahami pentingnya kebijakan pengelolaan energi, sumber daya alam, dan pembangunan manusia nan berkeadilan sebagai fondasi bagi kesejahteraan generasi mendatang. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·