EmPower National Forum 2026: Scaling-Up Women’s Access to Finance for Climate Action pada Sabtu (23/5).(MI/HO)
KRISIS iklim bukan sekadar ancaman lingkungan, melainkan tantangan ekonomi nan nyata, terutama bagi kaum perempuan. Menyadari perihal tersebut, KUMPUL berbareng UN Women dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menyelenggarakan EmPower National Forum 2026: Scaling-Up Women’s Access to Finance for Climate Action pada Sabtu (23/5).
Forum nasional ini mempertemukan lebih dari 100 pemangku kepentingan, mulai dari jejeran pemerintahan, lembaga pembiayaan, organisasi pembangunan, hingga organisasi kewirausahaan perempuan. Fokus utamanya adalah memperluas akses pembiayaan suasana bagi upaya milik wanita serta membagikan keberhasilan penerapan tindakan suasana berbasis organisasi di Indonesia.
Perempuan sebagai Solusi Krisis Iklim
Data menunjukkan bahwa wanita memegang peranan krusial dalam ketahanan pangan dan ekonomi. Namun, mereka tetap terbelenggu oleh ketimpangan akses sumber daya nan berisiko semakin parah akibat perubahan iklim.
Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia, menegaskan bahwa memberdayakan wanita adalah strategi ketahanan ekonomi nan paling efisien.
"Apabila wanita mendapat kendali lebih besar atas sumber daya produktif, dampaknya bakal jauh lebih luas. Ini adalah bukti nyata bahwa kesetaraan kelamin adalah kunci ketahanan," ujarnya.
Berikut adalah info urgensi akses sumber daya bagi wanita berasas laporan FAO nan disoroti dalam forum tersebut:
| Kontribusi Petani Perempuan di Negara Berkembang | 60% – 80% Produksi Pangan |
| Kepemilikan Lahan oleh Perempuan | Kurang dari 20% |
| Potensi Peningkatan Hasil Panen (Jika Akses Setara) | 20% – 30% |
| Dampak Sosial Global | 150 Juta Orang Terbebas dari Kelaparan |
Capaian Program EmPower di Indonesia
Forum ini merupakan bagian dari program EmPower: Women for Climate-Resilient Societies Programme (Phase II). Inisiatif dunia dari UN Women dan UNEP ini didukung oleh pemerintah Selandia Baru, Jerman, Swedia, dan Swiss untuk memperkuat tindakan suasana nan responsif kelamin di Asia Pasifik.
Di Indonesia, program ini telah menunjukkan hasil nyata melalui kerjasama dengan PNM dan KUMPUL. Sejak dimulai di NTB dan NTT pada 2025, program ini telah berekspansi ke Jawa Barat dan Jawa Timur pada awal 2026.
| Penerima Manfaat | > 6.000 Pengusaha Perempuan Ultra Mikro |
| Teknologi Diperkenalkan | 4 Jenis Teknologi Cerdas Iklim (Climate-Smart Tech) |
| Tenaga Pelatih Lokal | 21 Pelatih di Wilayah Implementasi |
| Lokasi Implementasi Utama | Sulamu (NTT), Suralaga (NTB), Dampit (Malang), Cibodas (Bandung) |
Membangun Ekosistem Keuangan Inklusif
EVP Development Service Management PNM, Razaq Manan Ahmad, mengungkapkan bahwa perubahan suasana membikin pendapatan pengguna wanita menjadi tidak menentu.
"PNM mulai mendorong jasa finansial nan lebih responsif terhadap akibat suasana agar wanita pelaku upaya mempunyai pengetahuan dan teknologi penyesuaian untuk menjadi lebih tangguh," jelasnya.
Senada dengan perihal tersebut, Faye Wongso selaku Founder & Chairperson KUMPUL menekankan pentingnya memandang wanita sebagai pemimpin adaptasi, bukan sekadar penerima manfaat. Melalui forum ini, diharapkan tercipta sistem de-risking nan efektif untuk membawa solusi upaya hijau dari skala mini menuju sistem nan dapat berkembang secara nasional.
Dengan adanya EmPower National Forum 2026, para pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus mendorong ekosistem pembiayaan nan tidak hanya inklusif secara ekonomi, tetapi juga responsif terhadap tantangan suasana masa depan. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·