Peristiwa itu bermulai dari operasi penindakan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah untuk menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu. Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang sasaran operasi berinisial BIO, residivis kasus narkotika.
Sebanyak 12 personel diterjunkan pada Rabu malam, 1 Juli 2026. Setibanya di lokasi, mereka dibagi menjadi dua tim. Satu tim bergerak melakukan penindakan di rumah target, sementara tim lainnya bersiaga sebagai unsur pendukung.
Target operasi sukses diamankan. Namun situasi berubah cepat. Beberapa orang di dalam rumah berbareng penduduk sekitar melakukan perlawanan menggunakan parang.
“Massa kemudian bertambah dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan,” ujarnya.
Dalam situasi nan semakin tidak terkendali, para personel berupaya menyelamatkan diri sembari menunggu bantuan. Sejumlah personil berenang menyeberangi sungai dan berlindung di area hutan.
Serangan itu merenggut nyawa Aipda Yudhie Perdana Putra. Dia ditemukan meninggal bumi dengan luka akibat senjata tajam. Sementara dua personil lain, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, dinyatakan hilang.
Pencarian terhadap keduanya berjalan selama beberapa hari. Tim campuran nan terdiri atas personel Polda Kalimantan Tengah, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, serta masyarakat menyisir aliran sungai dan area rimba menggunakan tiga perahu karet dan delapan kapal ces kecil.
Bripda Nopandri Ramadhana ditemukan lebih dulu pada Sabtu, 4 Juli 2026, sekitar pukul 15.55 WIB di DAS Katingan, seberang Desa Tumbang Lahang, Kecamatan Katingan Tengah.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono mengatakan Briptu Rangga dan Bripda Ryan menemukan korban dalam keadaan kaku, terapung, dan tersangkut di ranting kayu. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada tim campuran nan berada di posko sebelum jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diautopsi.
Sehari berselang, Minggu, 5 Juli 2026, pencarian kembali membuahkan hasil. Sekitar pukul 08.42 WIB, tim menerima info dari Babinsa Rantau Asem, Kopda Imam, mengenai penemuan sesosok mayit di Sungai Desa Rantau Asem, sekitar empat kilometer dari letak kejadian di Desa Tumbang Kalemei.
Tim menuju letak dan memastikan jenazah tersebut adalah Aiptu Sumaryanto. Pada pukul 09.45 WIB, jenazah diberangkatkan menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya.
Dengan ditemukannya Aiptu Sumaryanto, jumlah personel Polri nan gugur dalam operasi penindakan narkotika di Kabupaten Katingan menjadi tiga orang. Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso menyampaikan belasungkawa kepada family para personil nan gugur.
“Kami menyampaikan belasungkawa nan sedalam-dalamnya kepada family almarhum. Semoga para almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan nan Maha Esa dan family nan ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan,” ujarnya.
Dia menegaskan peristiwa tersebut menjadi perhatian serius Bareskrim Polri. Tim gabungan, kata Eko, tetap terus melakukan penyelidikan sekaligus mengejar para pelaku nan diduga terlibat dalam penyerangan terhadap personil Polri.
“Kami tidak bakal berakhir sampai seluruh pelaku sukses diamankan dan diproses sesuai ketentuan norma nan berlaku,” katanya.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·