Ilustrasi.(Magnific)
EMIRAT Arab sekarang memimpin langkah diplomatik nan lebih terkoordinasi untuk mengakhiri perang dengan Iran. Bergabung berbareng Arab Saudi dan Qatar, Emirat mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memberikan kesempatan pada jalur negosiasi guna menghindari kehancuran ekonomi di area Teluk.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan bagi Abu Dhabi, nan sebelumnya dikenal lebih garang (hawkish) terhadap Teheran. Kekhawatiran utama negara-negara sekutu AS ini adalah potensi pembalasan Iran nan dapat menjerumuskan ekonomi Teluk ke dalam kekacauan jika permusuhan kembali pecah.
Diplomasi di Tengah Ancaman Resesi Kawasan
Dalam panggilan telepon terpisah dengan Trump, para pemimpin dari ketiga negara sekutu AS tersebut menegaskan bahwa tindakan militer tidak bakal mencapai tujuan jangka panjang Amerika terhadap Iran. Mereka memperingatkan bahwa konfrontasi bersenjata hanya bakal memperburuk situasi keamanan daya global.
Ketakutan ini didasari oleh pengalaman pahit antara akhir Februari hingga gencatan senjata awal April lalu. Saat itu, serangan jawaban Iran dan golongan militan nan didukungnya menyebabkan kerusakan prasarana daya senilai miliaran dolar dan menyantap banyak korban jiwa di wilayah Teluk.
Dampak Perang Terhadap Infrastruktur Teluk:
- Kerusakan Pelabuhan: Serangan ribuan drone dan rudal menghantam titik-titik logistik vital.
- Blokade Selat Hormuz: Penutupan jalur air ini oleh Teheran sempat mencekik ekspor minyak dan gas alam negara-negara GCC.
- Ancaman Nuklir: Serangan drone terbaru pada pembangkit listrik tenaga nuklir Emirat menunjukkan kerentanan prasarana strategis.
Peran Pakistan dan Sinyal Kemajuan
Saat ini, Iran dan AS sedang berganti pesan melalui mediasi Pakistan untuk mencapai kesepakatan tenteram permanen. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengindikasikan ada sedikit kemajuan dalam negosiasi tersebut. Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, juga dijadwalkan mengunjungi Iran sebagai bagian dari upaya mediasi.
Meskipun ada sinyal positif, ketegangan tetap tinggi. Anwar Gargash, penasihat senior Presiden Emirat, menyatakan bahwa kesempatan mencapai kesepakatan berada di nomor 50-50. "Kekhawatiran saya adalah Iran selalu melakukan negosiasi nan berlebihan (over-negotiated). Saya minta mereka tidak melakukannya kali ini lantaran area ini sangat memerlukan solusi politik," ujarnya.
Dilema Donald Trump
Presiden Donald Trump sekarang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, dia berambisi menghancurkan program rudal balistik Iran, tetapi di sisi lain, perang ini menelan biaya puluhan miliar dolar bagi AS. Lonjakan nilai daya akibat penutupan Selat Hormuz juga membikin bentrok ini semakin tidak terkenal di mata publik Amerika.
Sementara itu, Israel tetap memandang Iran sebagai ancaman eksistensial. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberi sinyal bahwa serangan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran secara permanen. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan pemimpin Teluk bahwa Israel mungkin bakal meyakinkan Trump untuk kembali melancarkan serangan militer.
Saudi dan Emirat sekarang mendorong AS untuk konsentrasi pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara permanen dan mempertahankan tekanan diplomatik daripada melanjutkan konfrontasi bentuk nan berisiko menghancurkan stabilitas regional nan baru saja mulai pulih. (Bloomberg/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·