El Nino Datang Membawa Petaka, Tetangga RI Terancam Krisis Pangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ribuan family di wilayah pegunungan (Highlands) Papua Nugini sekarang menghadapi ancaman kandas panen massal dan kelaparan hebat. Pola cuaca ekstrem El Niño dilaporkan membawa musibah embun kaku serta kekeringan panjang nan merusak perkebunan penduduk di wilayah tersebut.

Mengutip laporan The Guardian, Kamis (25/6/2026), akibat jelek El Niño mulai bermunculan dalam beberapa pekan terakhir nan ditandai dengan menyusutnya debit air bersih secara drastis. Lembaga support Oxfam menyebut Papua Nugini sebagai negara Pasifik nan menerima akibat kerusakan paling parah akibat anomali cuaca ini.

Oxfam memperkirakan sekitar 3 juta orang di seluruh negeri bakal terdampak langsung, di mana 1,9 juta di antaranya berada di wilayah pegunungan. Krisis ini kian diperparah oleh serangan (benih)penyakit invasif nan ikut mematikan komoditas sayuran serta hewan ternak milik para petani setempat.

Kesaksian Warga dan Ancaman Malnutrisi

Kondisi tanpa tutupan awan di malam hari membikin suhu di wilayah pegunungan merosot tajam hingga di bawah titik beku. Hal ini memicu kemunculan embun kaku nan langsung membakar jaringan tanaman pangan dan memicu kepanikan massal di kalangan petani lokal.

Pihak penanggulangan musibah memperingatkan bahwa persediaan makanan di sejumlah organisasi diproyeksikan hanya bakal memperkuat selama dua hingga tiga bulan saja. Banyak kepala family terpaksa memotong porsi makan harian mereka nan meningkatkan akibat penyebaran pandemi malnutrisi akut pada anak-anak.

"Rabu pekan lalu, semua kebun kami tertutup embun beku. Kami menangis, lantaran kebun-kebun ini bukan hanya untuk kami makan tetapi juga sumber penghasilan kami," tutur Martha John, seorang penduduk berumur 62 tahun di distrik Kundiawa-Gembogl.

John menjelaskan bahwa keluarganya sangat berjuntai pada hasil panen kentang untuk membiayai kebutuhan hidup seluruh anak dan cucunya. Kasus serupa menimpa John Wankar, seorang petani di Tambul nan kehilangan seluruh komoditas sayurannya dalam semalam akibat kejadian alam tersebut.

Petugas dari Institut Riset Pertanian Nasional melaporkan bahwa seorang petani kentang di Tambul mengalami kerugian hingga separuh dari total lahan produksinya. Dalam kondisi normal, panen tersebut semestinya bisa menghasilkan pendapatan lebih dari 10.000 Kina alias setara Rp 36 juta melalui jaringan pengepul lokal.

Antisipasi Pemerintah dan Dampak Regional

Bencana kekeringan ini juga mulai mematikan akses air bersih setelah banyak sungai dan aliran sungai mini dilaporkan mengering total. Krisis air dan suhu udara nan menyengat apalagi memaksa sejumlah sekolah untuk memangkas jam belajar mengajar mereka.

Menteri Penanggulangan Bencana Nasional, Billy Joseph, mengonfirmasi bahwa seluruh tim di lapangan telah memandang adanya indikasi tekanan kelembapan nan parah pada tanaman. Menanggapi situasi kritis ini, Perdana Menteri James Marape langsung menginstruksikan seluruh jejeran pemerintah wilayah untuk bersiap menghadapi musim tandus nan panjang.

"Ini adalah waktu untuk kesiapan, bukan kepanikan. Setiap distrik dan setiap provinsi kudu mengetahui area rentannya, mengetahui sumber airnya, melindungi rakyatnya, dan bersiap lebih awal," tegas Marape dalam arahannya.

Dampak jelek El Niño ini nyatanya tidak hanya mengisolasi Papua Nugini, melainkan ikut menakut-nakuti sekitar 4,7 juta penduduk di area Pasifik. Negara kepulauan seperti Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, Samoa, dan Tonga ikut mengalami kekeringan ekstrem, sementara wilayah Kiribati dan Tuvalu justru bersiap menghadapi ancaman banjir rob akibat kenaikan permukaan air laut.

Direktur Layanan Cuaca Nasional, Jimmy Gomoga, memproyeksikan bahwa intensitas pola cuaca El Niño ini tetap bakal terus memengaruhi suasana Papua Nugini hingga beberapa bulan ke depan. Akibatnya, kekhawatiran penduduk di wilayah pegunungan kian menebal seiring menipisnya stok pangan di lumbung mereka.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News