El Nino 2026, Kekeringan Ancam Sejumlah Wilayah Indonesia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
El Nino 2026, Kekeringan Ancam Sejumlah Wilayah Indonesia ilustrasi(Antara)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi kekeringan signifikan nan mengintai sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus hingga Oktober 2026 seiring berkembangnya kejadian El Nino di Samudra Pasifik tropis. Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan Sumatera bagian tengah hingga selatan, sebagian besar Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, sebagian Maluku, serta Papua bagian selatan diperkirakan mengalami curah hujan kurang dari 50 persen kondisi normal.

"Pada Bulan Agustus-September dan Oktober 2026, Sumatera bagian Tengah Selatan, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Jawa-Bali-NTB-NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku dan sebagian Pulau Papua bagian Selatan diprediksi mengalami curah hujan kurang dari 50 persen dari normalnya sehingga berpotensi mengalami kekeringan signifikan," kata Fachri kepada Media Indonesia, Kamis (4/6). 

Peringatan itu disampaikan di tengah perkembangan El Nino nan mulai terdeteksi sejak April 2026. BMKG mencatat indeks El Nino telah melampaui periode normal dengan nilai +0,52 pada April dan meningkat menjadi +1,00 pada Mei 2026.

Menurut Fachri, kondisi tersebut menunjukkan Samudra Pasifik tropis telah memasuki fase El Nino Conditions dan diperkirakan berkembang menjadi El Nino Event dalam beberapa bulan ke depan. Meski demikian, BMKG menegaskan tidak menggunakan istilah Godzilla El Nino nan belakangan ramai digunakan sejumlah media. "BMKG tidak menggunakan istilah Godzilla El Niño dalam komunikasi ilmiah maupun operasionalnya," ujarnya.

Ia menjelaskan BMKG merujuk pada pengelompokkan standar internasional nan ditetapkan World Meteorological Organization (WMO), ialah El Nino lemah (weak), sedang (moderate), dan kuat (strong).

Fachri mengatakan sejumlah model suasana menunjukkan El Nino 2026 berpotensi mencapai intensitas nan setara dengan peristiwa El Niño 2015/2016. Namun, kesamaan nilai indeks ENSO tidak otomatis menghasilkan akibat nan sama seperti satu dasawarsa lalu.

Menurut dia, kondisi suasana dunia saat ini telah berubah akibat tren pemanasan dunia nan membikin suhu lautan secara umum lebih tinggi dibandingkan periode 2015/2016.

Karena itu, kontribusi pemanasan dunia perlu diperhitungkan dalam menginterpretasikan besarnya indeks ENSO maupun akibat nan ditimbulkannya.

Selain itu, ketidakpastian mengenai intensitas puncak El Nino tetap cukup tinggi. Sebagian besar model memproyeksikan El Nino kuat, sementara sebagian mini model apalagi mengindikasikan kemungkinan mencapai kategori sangat kuat alias very strong El Niño.

"Masih terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa El Nino 2026 bakal mempunyai kekuatan nan sama dengan El Nino 2015/2016," ujarnya.

Fachri menambahkan hingga sekarang belum terdapat konsensus ilmiah nan menyatakan El Nino tahun ini bakal setara dengan peristiwa 2015/2016.

"Secara ilmiah, kondisi saat ini lebih tepat disebut sebagai El Nino nan sedang berkembang dan berpotensi mencapai intensitas kuat, dengan tingkat kepastian nan tetap bakal terus dievaluasi seiring bertambahnya info observasi dan pembaruan prediksi iklim," katanya.

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia bakal mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Menurut arti BMKG, puncak tandus berjalan selama satu bulan lantaran ditentukan berasas periode dengan curah hujan terendah.

Di tengah ancaman kekeringan, masyarakat juga tetap merasakan kejadian suhu udara nan sangat panas pada siang hari, apalagi melampaui 35 derajat Celsius, namun disertai hujan lebat pada sore hingga malam hari.

Fachri menjelaskan kondisi tersebut umum terjadi pada masa peralihan musim alias pancaroba. "Fenomena ini tidak bertentangan dengan ancaman tandus dan justru umum terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba)," ujarnya.

Ia menjelaskan radiasi mentari nan kuat pada siang hari menyebabkan suhu permukaan meningkat cepat. Udara panas kemudian naik membentuk konveksi kuat, sementara uap air nan tetap cukup banyak di atmosfer berkumpul menjadi awan Cumulonimbus nan memicu hujan deras, petir, dan angin kencang pada sore alias malam hari.

"Cuaca panas siang hari bukan berfaedah tidak bisa hujan. Kemarau bukan berfaedah tidak ada hujan sama sekali. nan berubah adalah gelombang dan akumulasi hujannya," katanya.

Menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, BMKG meminta pemerintah wilayah segera melakukan langkah antisipasi. "BMKG menekankan bahwa masa antisipasi adalah sekarang, bukan saat kekeringan sudah terjadi," ujar Fachri.

BMKG merekomendasikan pemerintah wilayah menyiapkan persediaan air baku dan air bersih, memetakan wilayah rawan kekeringan, mengoptimalkan waduk, embung dan jaringan irigasi, menyusun agenda tanam sesuai prakiraan musim, memperkuat mitigasi kebakaran rimba dan lahan, serta menyiapkan pengedaran air bersih bagi wilayah rawan.

Untuk sektor pertanian, BMKG menyarankan percepatan masa tanam di wilayah nan tetap mempunyai persediaan air, penggunaan varietas tahan kekeringan, penghematan air irigasi, dan pemanfaatan info suasana bulanan BMKG.

Sementara masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air, menampung air hujan selagi tersedia, tidak melakukan pembakaran lahan, mewaspadai cuaca ekstrem lokal saat pancaroba, serta terus memantau pembaruan info BMKG lantaran perkembangan intensitas El Niño tetap terus dievaluasi. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia