Ekspor Sulsel Naik 6,58 Persen, Nikel masih Primadona meski Terkoreksi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ekspor Sulsel Naik 6,58 Persen, Nikel tetap Primadona meski Terkoreksi Ilustrasi(Dok PT Vale Indonesia)

BADAN Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat angin segar bagi keahlian ekspor wilayah pada April 2026. Nilai ekspor nan dikirim melalui pelabuhan di Sulsel mencapai US$121,41 juta alias melonjak 6,58% dibandingkan bulan sebelumnya. Sayangnya, secara tahunan, tren ekspor tetap tertekan.

Meski naik dari Maret 2026 nan tercatat US$113,91 juta, nilai ekspor April 2026 justru turun 9,39% jika dibandingkan April 2025 nan mencapai US$133,99 juta. Demikian dikutip dari siaran pers BPS Sulsel, Rabu (3/6).

Secara kumulatif selama Januari–April 2026, total ekspor Sulsel hanya US$445,21 juta, ambles 12,24% dibanding periode sama tahun lampau nan tembus US$507,28 juta. Angka ini menjadi sirine bagi penguatan diversifikasi produk ekspor ke depan.

Nikel tetap Jawara

Kepala BPS Sulsel, Aryanto, mengungkapkan bahwa nikel tetap menjadi penyangga utama ekspor Sulawesi Selatan. Pada April 2026, nilai ekspor nikel mencapai US$66,12 juta alias menyumbang porsi dahsyat 46,6% dari total ekspor peralatan asal Sulsel.

Meski mendominasi, keahlian nikel justru mengalami koreksi. Dibandingkan Maret 2026, ekspor nikel turun 10,16%. "Namun komoditas lain menunjukkan pertumbuhan menggembirakan," ujar Aryanto.

Biji-bijian berminyak misalnya, nilainya melesat 106,93% menjadi US$16,94 juta. Sementara daging dan ikan olahan naik 73,58%. Komoditas lain nan masuk daftar utama: besi dan baja (US$6,59 juta), garam, belerang dan kapur (US$5,73 juta), serta ikan dan udang (US$5,47 juta).

Bangladesh dan Taiwan Borong Produk Sulsel

Dari sisi volume pengiriman, Bangladesh menjadi tujuan ekspor terbesar dengan 57,20 ribu ton (33,36% dari total volume). Namun nan paling besar justru Taiwan: 58,68 ribu ton dengan kontribusi 34,23%. Disusul Tiongkok (19,92 ribu ton), Timor Leste (21,10 ribu ton), dan Korea Selatan (7,33 ribu ton).

Sementara dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Malili mencatatkan nilai ekspor tertinggi US$66,12 juta alias 54,46% dari total ekspor Sulsel. Pelabuhan Makassar di posisi kedua dengan nilai US$50 juta (41,19%).

Impor Justru Melonjak 14,55% secara Tahunan

Berbanding terbalik dengan ekspor, nilai impor Sulawesi Selatan justru melesat. BPS mencatat impor April 2026 mencapai US$80,90 juta, naik 14,55% dibanding April 2025 (US$70,62 juta). Secara kumulatif Januari–April 2026, impor Sulsel tembus US$337,61 juta alias meroket 35,33% dari periode sama tahun lampau nan hanya US$249,48 juta.

Komoditas impor terbesar, ialah gandum-ganduman (US$21,29 juta, 26,31 persen), diikuti bahan bakar mineral (US$16,91 juta), gula dan kembang gula (US$11,77 juta), olahan makanan hewan (US$11,33 juta), serta kakao dan cokelat (US$4,01 juta).

Negara asal impor terbesar adalah Singapura (US$13,33 juta), Tailan (US$12,76 juta), Amerika Serikat (US$10,38 juta), Australia (US$10,31 juta), dan Tiongkok (US$9,85 juta).

Raup Laba meski Produksi Turun

Sebagai pemain utama nikel di Sulsel, PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatat keahlian finansial impresif pada kuartal I 2026. Laba bersih melonjak 85% menjadi US$43,6 juta dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong kenaikan nilai nikel bumi dan efisiensi biaya. EBITDA juga tumbuh 29% menjadi US$80,1 juta.

Pendapatan perusahaan tercatat US$252,7 juta, dengan nilai rata-rata nikel matte US$14.213 per ton, naik 15%. Padahal, produksi nikel matte turun menjadi 13.620 ton lantaran optimasi pemeliharaan Furnace 3. Pengiriman juga terkoreksi 25% secara triwulanan.

Namun PT Vale optimistis dapat mencapai sasaran produksi tahunan 67.645 ton. Tahun 2026 menjadi fase ekspansi besar. Tiga blok tambang (Sorowako, Bahodopi, Pomalaa) mulai beraksi bersamaan. Penjualan perdana bijih nikel limonit dari Pomalaa juga telah dilakukan, memperluas portofolio pendapatan.

Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, menyatakan, di tengah tantangan industri global, Perseroan bisa menjaga keahlian operasional nan solid, meningkatkan profitabilitas, serta melanjutkan transformasi menuju perusahaan tambang mineral kritis nan lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Langkah strategis lain, dengan penandatanganan Sustainability-Linked Loan senilai US$750 juta pada 23 April 2026, berupa akomodasi pinjaman berbasis ESG pertama di industri pertambangan Asia Tenggara. Belanja modal nan direalisasikan mencapai US$139 juta untuk proyek strategis.

"Dengan nilai nikel nan condong meningkat dan efisiensi berkelanjutan, PT Vale berada pada posisi kuat untuk melanjutkan pertumbuhan," tutupnya. (LN/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia